Translate
Sunday, April 7, 2013
Septian Saputro 09110023 TARJAMAH ARAB-INDONESIA II BALKON
Septian Saputro 09110023
TARJAMAH ARAB-INDONESIA II
BALKON
Ku lihat jam yang hampir mendekati pukul 10, aku tahu bahwa anak-anak akan datang terlambat lagi, ku tarik album foto dan ku mulai membalik setiap lembarnya hingga ku habiskan sisa waktu, lembaran demi lembaran menuntunku ke foto Fatimah, istriku yang wafat setelah diserang kangker 20 tahun lalu tanpa belas kasih, ku ingat betapa kerinduan dan kasih itu, rasa bahagia denganya dan dalam kehidupanya yang singkat namun bahagia. Meskipun hal itu sudah terjadi bertahun-tahun namun bayanganya tidak bisa berlalu dari kenanganku, kata-kata yang ia ucapkan di hari kepergianya masih saja terngiang dalam benak ini, ku tak kan pernah berhenti mendengar suaranya hingga akhir hayatku, seperti kata-kata terkahir yang ia ucapkan : anak-anak itu, jangan kamu hukum mereka, berikanlah mereka perhatian” sejak hari itu ku berjanji pada diri sendiri agar kehidupan merka tidak dicampur istri seorang ayah, tidak akan ada ibu tiri bagi mereka. Tahun demi tahun berlalu, ku lihat mereka tumbuh dengan cepat, hal ini mengantikan apa yang kualami dalam kesendirianku yang sulit. Setelah tahun-tahun itu berlalu mereka memiliki kehidupan yang pribadi, anak yang besar menikah dan memilki tiga anak, anak yang kedua (tengah-tengah) pergi ke Timur, untuk belajar arsitek dan menjadi insinyur seperti yang selalu ia impikan, sedangkan yang kecil yang manja sudah pergi juga ke amerika dalam rangka delegasi study, kini tinggalah saya sendiri, menanti hari kamis, menanti kunjungan Ahmad dan cucu-cucuku yang tak terjadwal secara khusus di hari penantian, bahkan tak satupun teman yang menetap, mayoritas mereka sudah meninggal atau diserang sakit, mereka mulai menasihatiku untuk menikah lagi, akan tetapi bagaimana ku bisa mencintai seorang wanita setelah Fatimah meninggal. Apakah disisa umurku ini, ku bisa memulai kehidupan yang baru?! Ku tarik nafas, ku letakan album itu disamping dan mulai berputar mengelilingi apartemen seperti seekor harimau yang terkungkung, ku mulai berfikir kegiatan apa yang bisa mengsisi waktu, ku letakan arang kedalam api persiapan untuk menghisap syisa dimana dokterku berkata bahwa suatu saat nanti, syisa itu bisa membunuhku, tidak diketahui bahwa kesendirian itu merupakan mayoritas pembunuh dibandingkan dengan racun apapun. Bel pintu berdering, kutahu bahwa itu pasti Ahmad, ku berlari dan membuka pintu, ku mendapatinya namun ia hanya sendiri, dahiku mengerut, ku sambut ia seraya berkata :
selamat datang anakku, dimana anak-anak
Ia menjawab nampak letih :
Ibu anak-anak mendesak mereka untuk pergi bersama anak-anak bibi mereka ke taman bermain. Kepalaku bergoncang, tanpa komentar ku masuk ke ruang duduk, ku tak menatap apa-apa kecuali hanya atap langit . Kami mulai mengakhiri ujung pembicaraan sedang bayangan menanti masanya sepanjang waktu seolah menerangkan bahwa Ahmad harus pergi untuk menemani istri dan anknya, saat ia berjalan keluar ia berkata dengan rona wajah menggambarkan rasa jijik :
Ayah, cobalah membuka jendela untuk penganginan, udara disini hampir seperti seorang pembunuh, ayah merokok di apartemen ini, kenapa ayah tidak menggunakan balkon saja, sebagai ganti utuk menyimpan kenangan-kenangan lama ayah disana.
Kata-kata itu menghadirkan kenangan indah yang pernah bersemi dalam hidupku, masa lalu dimana aku duduk bersama Fatimah di balkon, kemudian kami berhenti melakukan itu setelah Amron meninggkan bangunanan yang berada disebelah, saat itu dengan sedih ku putuskan untuk mengubah kenangan lama itu. Muncul sebuah ide dalam benakku, kenapa tak kubuka jendela itu besok dan membuang semua kenagan lama dan kugunakan tempat itu sebagai tempat untuk mengisap syasya, apalagi udara akhir-akhir ini sangatlah baik. Malam itu ku tidur dalam keadaan bahagia layaknya seorang anak yang memiliki impian baru. Tak ku biarkan matahari terbenam hingga ku minta bantuan security untuk membersihkan balkon, sebelum pertengahan siang balkon sudah harus siap, ku rencanakan untuk tidur siang hingga ku merasa sedikit rilex dan setelah asar ku sudah bangun. Ku masukan batu bara kemudian kucuci kepalaku agar ku bisa menyiraminya dengan madu, setelah itu ku kirim securitiy di sebagain barang import pecah belah hingga bagadang bisa jadi sangat sempurna sebagaimana yang pernah ku dan fatimah lakukan. Kumulai mengisap syasa di udara bebas dan ku merasa hidup sedang mengisi kekosonagnku. Ku mulai memperhatiakn jalan, orang-orang, aku merasa seakan-akan ku dibangkitkan dari kematian, karena ku merasa bahwa setidaknya ku ikut melakukan apa yang mereka perbuat, ku melihat mereka mondar-mandir. Setelah hal itu semua, balkon menjadi bagian keseharian dalam hidupku, ku rawat dengan membersihkan, menatanya dengan tumbuh-tumbuhan begitu pula ku berfikir untuk mengecat ulang dindingnya, kian lama ku mulai tahu aktivitas, waktu-waktu jalan raya, kegiatan serta kebiasaan masyarakat, hingga seakan tak satu wajah barupun atau kebiasaan aneh yang ada sekalipun bisa bersembunyi dari ku.
Disuatu hari, kulihar sebuah mobil yang asing berhenti jalan sebelah bangunan, anak gadis tetangga turun dari mobil itu, ia menolah-noleh sekitar kemudia diikuti seorang pemuda, mereka berdua mojok di kantor lama security yang tidak lagi akan dibangun, mereka berdua berciuman panas. Angin berhembus membawa beberapa percakapan mereka yang sarat akan rindu dan cinta yang mereka tinggalkan. Dengan terburu-buru gadis itu naik ke lantai apartemen sedangkan si pemuda menuju mobilnya.
sungguh cinta itu indah, pertemuan panas mereka terjadi berulang-ulang di tempat bersuara yang memiliki atap terbuka, yang membuatku takjub adalah alangkah hal itu bisa menjadi indah setelah dilanda cinta, ku berjanji pada diriku sendiri untuk memelihara cinta mereka hingga ku mulai mengawasi lingkungan agar tak ada orang lain yang melihat mereka, hingga ku awasi mereka berdua dari mata yang bisa melihat mereka berdua. Kondisi seperti itu berjalan selama kurang lebih satu bulan hingga satu saat gadis itu turun tanpa disusul oleh sang pemuda, ku tidak faham apa yang terjadi. Namun di hari berikutnya pemuda itu datang dari arah ia pergi, cukup lama ia mengitari desa dan bangunan itu dengan mobilnya, tanpa berhenti atau turun dari mobil. Ku perhatikan ia namun ia tak melihatku, saat itu ku ingat “lampu jalan” saat listrik tiba-tiba anjlok kutinggalkan ia, kemudian ku berlari untuk mendapatinya dan ku mulai menghidup matikanya hingga ia melihatku, secara terburu-buru ia berhenti di sekitar pintu hotel. Setelah kupakai sepatu sandal, ku akan berbicara denganya, ku turun, nampak tanda kebingungan di wajahnya, ku tersenyum dan berkata padanya :
santai saja pemuda, saya mengenal kamu dan juga kekasihmu, gadis dari anak tetanggaku. saya sudah pernah melihat pertemuan kalian sekian lama adakah yang bisa saya bantu?
Pada saat yang sama tampak bauran rasa malu dan bingung pada wajahnya, setelah berhenti ia berkata :
Salwa marah padaku karena perbincangan masalah rumah diantara kami semalam, ia tak menjawab telfonku, saya berusaha menyampaikan sumpah setia ini.
Kulihat dalam sebuah kotak kecil yang ia berikan padaku, dengan yakin ku berkata:
Jangan resah. Apa yang kamu inginkan akan terjadi.
Ia sangat berterimaksih padaku, kemudian beranjak menuju mobilnya dan pergi. Sedangkan pikiranku melayang, meluncur seperti sebuah roket berfikir utuk bisa menyampaikan kesetianya itu secepat mungkin. Muncul ide untuk menyampaikan hal itu pada Salwa esok pagi tatkala ia keluar untuk ke kampus. Malam itu ku tak tidur, ku menunggu waktu pagi, ayah dan adiknya tidak akan keluar menuju sekolah kecuali jika supir yang mengantarnya ke kampus sudah dating, lantas ku tunggu ia didepan pintu apartemen. Saat akan menutup pintu ia mendapatiku menghalangi jalanya, ku tidak memberikanya kesempatan utuk bicara karena dengan cepat ku langsung berkata:
Ia masih menunggumu semalaman, ia sangat menyukaimu
Kemudian ku berkata lagi meskipun ia keheranan.
Ini milikmu.
Salwa menerima kotak itu sedangkan aku masuk dalam apartemenku, setelah itu ku sembunyikan cerita tentang mereka berdua untuk beberapa hari hingga suatu saat bel pintu berdering di sore hari, aku dikagetkan dengan kedatangan orang tua Salwa, ku kaget ketika melihatnya merasa takut karena urusanya diungkap dan datang untuk memarahiku, akan tetapi ia bertingkah sebaliknya dan berkata kepadaku:
Kedatangan anda dalam lamaran anak saya Salwa di akhir pekan ini akan sangat membuat saya bahagia.
Ku benar-benar senang dan mengucapkan selamat padanya, ku mulai menanti akhir pekan dalam panasnaya batu bara, ku benar-benar hadir dalam acara lamaran itu yang dihadiri oleh sekelompok keluarga yang sederhana. Kulihat pemuda itu disana lantas ku ucapkan selamat padanya dan darinyalah aku tahu bahwa ia dan salwa bersikeras mengundangku dalam acara keluarga tersebut, mereka mengnggap bahwa ku hidup sendiri setelah ku membantu mereka, khususnya bahwa kotak yang pemuda berikan padanya itu berisi cincin lamaran untuk mengngukuhkan dan memperbaiki niatnya setelah Salwa menyangka bahwa pemuda itu tidak jujur padanya, ku amat sangat bahagia tiada tara. Semenjak anak-anak tumbuh dewasa ku belum pernah merasa memiliki nilai dan hal penting dalam hidup ini, pada hari itu kehidupan bertambah dalam rumah, ku merasa bahwa aku merupakan pahlawan legenda yunani yang mana namaku akan terkenang dalam hati pemuda dan pemudi ini, meskipun apa yang sudah ku perbuat bukanlah sesuatu yang pantas tuk dikenang. Dimalam itu ku tidur nyenyak, tidur yang tak pernah ku rasakan sejak lama, walaupun semua jenis obat-obatan sudah kugunakan untuk tidur.
Bagi ku Setiap hari berlalu seperti petualngan baru, hingga berbagai kearifanku bertambah sebagai hasil dari duduk-duduk di balkon. Setiap pejalan kaki yang lewat menyapa dengan salam dank ku jawab sama seperti salam mereka atau ku jawab lebih baik dari salam mereka, sejalan dengan itu hari- demi hari berlalu dengan kebosanan tak terdapat sesuatu yang dapat dikenang, akan tetapi mayoritas hari-hari merupakan kegembiraan, hari dimana kulihat seseorang menyerang sebuah mobil yang sedang diparkir di samping jalan dimana orang itu memecahkanya dengan kampak yang ia bawa. Ketika suatu hari kulihat pemilik mobil itu berdiri disampingnya dengan sekelompok polisi bagian kriminal, kemudian ku turun dan memberi tahu mereka atas apa yang ku lihat. Ku pergi ke bagian kepolisian bersama mereka dimana ku menyatakan kesaksianku disana. Setelah kejadian itu ku merasa bahwa diriku merupakan seorang yang berguna dalam masyarakat, bukanlah seorang laki-laki tua kesepeian yang dilupakan oleh anak-anaknya. Masa-masa terus melaju, ku memiliki pendengaran yang baik di desa, disetiap kesempatan penduduk desa selalu mengundangku/mengajakku, seperti halnya ku berpartisipasi dalam memimpin pembangunan masjid, pengumpulan dana di hari-hari bulan Romadhon dan pembagian zakat fitri.
Semua ini tidak akan terjadi jika ku tidak memanfaatkan balkon itu dan membuka pintu kehidupan yang belum ku ketahui sebelumnya. Ku bersyukur kepada Allah karena hal itu ku tidak tinggal dalam kesendirian yang menemaniku bahkan anak-anakku, ku tidak lagi merasa kehilangan mereka seperti yang pernah ku rasakan sebelumnya. Balkon memberikanku kehidupan baru, kesibukan dan memperkaya ku dengan kekuatan dan rasa cinta. Aku tahu bahwa kehidupan tidak akan berakhir kecuali dengan adanya kematian, sebagai ganti dari hal itu kehidupan berinovasi dalam bentuk dan model yang berbeda.
Kisah Saudi *
SEJARAH PERJUANGAN MESIR
Mesir dikuasai oleh Turki Osmani tahun 1517 di masa pemerintahan Sultan Salim I. Tahun 1769 Mesir berhasil lepas dari Turki Osmani selama beberapa periode.
Di bulan Juni 1797, Perancis masuk ke Mesir pertama kali melalui Alexandria yang dipimpin oleh Napoleon. Setelah bentrok berkali-kali antara orang-orang Osmani dengan Perancis, akhirnya Perancis bisa diusir berkat persekutuan antara Osmani, Inggris dan Mamalik. Dan Mesir kembali jatuh ke tangan Turki Osmani pada bulan Oktober 1801.
Babak berikutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Turki Osmani dengan Mamalik serta beberapa golongan yang ada di Mesir. Akhirnya kekuasaan di Mesir berhasil dipegang oleh Muhammad Ali Pasha di bulan Juli 1805.
Untuk membantu Mamalik yang tersingkir dari kekuasaannya di Mesir, Inggris melakukan agresi militer serta menaklukkan Alexandria pada bulan Maret 1807. Tapi berkat kelihaian Muhammad Ali Pasha dalam diplomasi, akhirnya di tahun yang sama dia berhasil mencapai kesepakatan untuk memaksa Inggris keluar dari Alexandria pada bulan Agustus 1807.
Di masa Muhammad Ali Pasha -yang dianggap pendiri Mesir modern- inilah kekuasaan Mesir meluas sampai ke Sudan, Syria, bahkan para tentaranya turut berperang bersama Turki di kapulauan Yunani, Asia Kecil, hingga Eropa Timur. Malangnya Muhammad Ali Pasha kemudian diasingkan oleh Sultan Osmani atas tekanan Inggris pada tahun 1840.
Sesudah Muhammad Ali Pasya, Mesir diperintah oleh Abbas I (1848-1854) dan Said Pasha (1854-1863). Namun di masa mereka Mesir mengalami kemerosotan, sampai muncul seorang pemimpin besar yang bernama Khedive Ismail (1863-1879) yang memeperbaiki kembali kehidupan sosial politik di Mesir.
Sementara itu, Terusan Suez mulai direncanakan oleh Ferdinand de Lesseps ketika masa Sultan Said Pasha tahun 1857, dan baru mulai digali pada 25 April 1859. Terusan ini dibuka pertama kali tanggal 17 November 1869, kala Khedive Ismail masih memimpin. Berhubung Mesir banyak mengalami kemerosotan ekonomi dengan pembukaan Terusan Suez, ditambah pula campur tangan asing yang berlebihan, akhirnya Sultan Ottoman menurunkan Khedive Ismail dari jabatannya tahun 1879, lalu digantikan oleh anaknya, Taufiq. Sewaktu pemerintahan Taufiq (yang dekat dengan Inggris) inilah terjadi beberapa peristiwa politik penting, diantaranya revolusi yang dipimpin oleh Ahmad Orabi. Menghadapi saat-saat genting seperti itu, Inggris kembali melakukan agresi militer ke Mesir. Setelah pertempuran beberapa kali di kawasan Delta, mereka terus bergerak dan berhasil menguasai Cairo pata 14 Desember 1882.
Inggris baru melepaskan Mesir dan Turki Osmani pada tahun 1914, karena Mesir membantu Turki dalam perang Dunia I yang m,elawan Sekutu (termasuk diantaranya Inggris).
REVOLUSI 1919
Seusai Perang Dunia I pada November 1918, di Mesir muncul pemimpin yang bernama Saad Zaghlul. Ia berusaha dan berjuang menuntut kemerdekaan Mesir dari Inggris. Lalu Inggris menangkap Saad Zaghlul serta mengasingkannya, sehingga membangkitkan kemarahan rakyat Mesir. Maka pada 9 MAret 1919 terjadilah revolusi besar menentang Inggris di Cairo dan seluruh penjuru Mesir yang mennyebabkan Inggris terpaksa merubah kebijakan politiknya terhadap Mesir serta memebebaskan Saad Zaghlul. Pahlawan besar ini akhirnya wafat pada 23 Agustus 1927.
Disela-sela lintasan sejarah itu, Mesir sempat masuk organisasi Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) pada bulan Mei 1937, dan sekaligus menjadi salah satu negara pemrakarsa berdirinya PBB.
REVOLUSI JULI 1952
Penjajahan Inggris dan campur tangan asing yang merajalela serta rentetan perang Palestina 1948, ditambah lagi sistem kerajaan yang menindas rakyat dan tidak adanya demokrasi yang mengakibatkan merosotnya ekonomi serta rusaknya kehidupan sosial, seluruh faktor tersebut memaksa rakyat Mesir meneriakkan satu kata; "revolusi".
Kondisi ini mendorong sebagian perwira -yang menamakan diri Dhubbath Al-Ahrar (Dewan Jendral) dibawah pimpinan Gamal Abdel Naser- untuk merubah dan memperbaiki situasi di Mesir.
Tanggal 23 Juli 1952 pasukan Dhubbath Al-Ahrar bergerak menguasai pusat-pusat pemerintahan dan sarana-sarana vital lainnya, serta mengepung istana Abdeen. Lalu mereka mengeluarkan siaran di radio yang mengumumkan pengambilalihan kekuasaan di Mesir. Ketika itu Mesir masih diperintah oleh Raja Farouk yang naik tahta sejak 1936. Oleh Dhubbath Al-Ahrar, Raja Farouk dipaksa menyerahkan jabatan kepada anaknya, Fouad II. Berhubung Fouad II belum cukup dewasa, maka kekuasaan dipegang junta (dewan pemerintahan) yang dibentuk oleh Dubbath Al-Ahrar. Tapi mereka melihat bahwa sistem kerajaan tidak cocok lagi dengan kehidupan rakyat Mesir. Akhirnya mereka mengumumkan berdirinya sistem negara Republik pada 18 Juni 1953, dan Jenderal Muhammad Naguib terpilih sebagai presiden pertama sampai tahun 1954.
Karena diilhami oleh revolusi ini, Sudan, yang sebelumnya masuk wilayah otoritas Mesir, menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1956. Uniknya, Mesir lah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Sudan. Selanjutnya, Sudan diterima sebagai anggota Liga Arab.
Kembali kepada penjajahan Inggris, setelah melewati perjuangan nan panjang, akhirnya tentara Inggris berhasil dipaksa keluar dari Mesir. Penarikan terakhir tentara Inggris keluar dari Mesir dilakukan pada tanggal 18 Juni 1956. Dan hari 18 Juni ini termasuk hari besar yang diperingati tiap tahun sebagai 'Iedul Galaa (Evacuation Day).
PERSEKONGKOLAN TERHADAP MESIR
Israel (dibantu oleh Inggris dan Perancis) menyerang Mesir pada tahun 1956. Salah satu sebab langsungnya adalah nasionalisasi Terusan Suez sejak 26 Juli 1956 yang sahamnya banyak dimiliki oleh Inggris maupun Perancis. Namun, dengan menerapkan perang habis-habisan, persekongkolan yang dikenal sebagai al-'Udwan al-Tsulatsi (Tripartote Agression) ini berhasil dilumpuhkan. Lalu Inggris dan Perancis mengudnrukan diri dari koa-kota sepanjang Terusan Suez.
PERANG 1967
Tentara Israel yang bergerak keperbatasan Syiria membuat Mesir gusar dan mengirim tentaranya ke Sinai serta menutup Teluk 'Aqabah yang membawa kerugian besar terhadap Israel. Maka pada 5 Juni 1967 Israel mendadak menyerang Mesir habis-habisan lewat udara, darat dan laut, sehingga mereka berhasil menduduki tepi timur Terusan Suez. Sedangkan di front Suriah, Israel berhasil menguasai dataran Tinggi Golan, bahkan PAlestina dan sebagian Jordan. Hal ini membuat seluruh negara Arab berdiri di belakang Mesir dan bahu-membahu menyerang tantara Israel yang berada di kota-kota Terusan Suez. Dalam saat-saat genting in ipemimpin Gamal Abdel Naser meninggal dunia taun 1970, setelah sebelumnya menggantikan posisi Jenderal Muhammad Baguib sebagai presiden (tanggal 23 Juni 1954).
Tentara Mesir yang dipimpin oleh presiden baru, Anwar Sadat, berhasl menyeberangi Terusan Suez dan menghancurkan kekuatan Israel pada 10 Ramadlan, tanggal 6 Oktober 1973 -pemandangan perang ini dapat anda saksikan secara 'live' di gedung Panorama Oktober, Jl. Salah Salim, Cairo. Rakyat Mesir mengenagnya sebagai peristiwa Ubour. Setelah kemenangan Oktober ini, Israel menyadari kekuatan Mesir, sehingga mereka mau berdamai dan menyerahkan kembali seluruh kawasan Sinai yang direbut ke pangkuan Mesir.
Di kemudian hari, presiden Anwar Sadat mengunjungi Israel pada bulan November 1977 yang dianggap penghianatan oleh bangsa Arab lain. Atas prakarsa Jimmy Carter, presiden AS ketika itu, Anwar sadat dan Menahem Begin menandatangani suatu perjanjian perdamaian di Camp David pada bulan September 1978 yang lantas dikenal dengan Perjanjian Camp David. Hal ini mengakibatkan Mesir dikeluarkan dari Liga Arab (dan markasnya dipindahkan dari Cairo ke Tunis). Tapi akhirnya Liga Arab kembali memasukkan Mesir sebagai anggota (bulan Juli 1990), dan markasnya kembali ke Cairo.
Pada peringatan hari kemenangan 6 Oktober, presiden Anwar Sadat ditembak dalam sebuah parade militer yang diadakan di daerah Nasr City, tahun 1981. Lalu Mohamed Husni Mubarak sebagai wakil presiden menggantikan posisi Anwar Sadat. sejak saat itu diumumkan undang-undang darurat militer yang diberlakukan sampai saat ini.
Pada tanggal 25 April 1982 Israel keluar dari seluruh Jazirah Sinai, berikutnya daerah Thaba pada tahun 1989.
Biografi Najib Mahfuz
Nama lengkapnya adalah Najib Mahfuz Abdul Aziz Ibrahim Basya, dilahirkan pada tanggal 15 Desember 1911, di Bandar Gamalia daerah pinggiran Kairo, Mesir. Keluarganya tergolong misikin dan tidak mengecap pendidikan yang memadai. Ayahnya adalah seorang pegawai rendahan yang kemudian beralih profesi menjadi pedagang. Mahfuz mempunyai enam saudara; dua laki-laki, empat perempuan. Keenam saudaranya ini telah mendahului menghadap Yang Maha Kuasa saat masih berusia balita. Jadilah Mahfudz kecil hidup tanpa canda dari kakak dan adiknya.
Pada tahun 1917, usia enam tahun, Mahfuz dan keluarganya tidak lagi menghirup suasana pinggiran Kairo yang kumuh dan tertinggal. Keluarganya pindah ke kawasan Abbasiyah yang lebih bersih dan modern. Pada saat itu, Mahfuz mulai mengecap pendidikan dasar, al-Madrasah al-Ibtida'iyyah. Pada tahun 1924, di usia tiga belas tahun, Mahfuz memasuki Sekolah Lanjutan; al-Madrasah ats-Tsanawiyyah Fu'ad al-Awwal.
Seiring peningkatan perekonomian keluarganya, pada tahun 1930 Mahfuz melanjutkan studinya di jurusan Filsafat Islam Universitas Kairo. Pada tahun 1934, Mahfuz mengantongi ijazah Sarjana Filsafat. Sebenarnya, Mahfuz mendapatkan tawaran dari Mustafa Abdul Raziq, salah seorang Guru Besar Universitas Kairo untuk menempuh program Doktor dalam bidang Filsafat dan Mistik Islam, namun tawaran itu ditolaknya. Kesenjangan sosial yang dirasakannya sejak kecil dan penderitaan kaum kecil yang tertindas oleh kekuasaan birokrasi Mesir membuat solidaritasnya bangkit. Mahfuz memilih pekerjaan di almamaternya dan menekuni bidang tulis-menulis.
AKTIVITAS NAJIB MAHFUDZ
Sejak pertengahan 1936 sampai 1939, Mahfuz mengabdi di almamaternya sebagai staf Sekretaris Universitas. Karier Mahfuz menanjak perlahan. Selepas dari pekerjaan ini, ia ditugaskan di Kementrian Agama dan Urusan Waqaf. Pekerjaan ini ditekuninya hingga tahun 1964. Pada tahun yang sama, di usia 43 tahun, ia mengakhiri masa lajangnya. Dan sejak saat itulah terjadi perubahan mendasar pada karier Mahfuz, ia diangkat sebagai Direktur Pengawasan Seni.
Pada tahun 1957, ia ditetapkan sebagai Direktur Lembaga Perfilman Nasional Mesir. Selama delapan tahun, Mahfuz mengabdi pada lembaga tersebut hingga ditetapkan sebagai anggota Dewan Tinggi Perlindungan Seni dan Sastra pada tahun 1965. setelah menjadi Penasihat Menteri Kebudayaan Mesir pada tahun 1971, Mahfuz memutuskan pensiun dan kembali mendalami minatnya dalam tulis-menulis, yakni sebagai editor sastra pada Surat Kabar al-Ahram; sebuah surat kabar harian yang dimiliki pemerintah Mesir.
KARYA-KARYA NAJIB MAHFUDZ
Sepanjang kehidupannya, Mahfuz telah menulis sekitar 70 cerita pendek, 46 karya fiksi, serta sekitar 30 naskah drama. Hingga saat ini, karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia termasuk Indonesia. Karya pertama Mahfuz diterbitkan pada tahun 1932, di usia 21 tahun, dalam bentuk terjemahan berjudul al-Misr al-Qadimah. Sejak itu berturut-turut Mahfudz menulis; Hams al-Junun (1938, Cerpen), Abats al-Akdar (1939), serta Redouvis (1943) dan kisah Kifah Thibah (1944). Karya-karyanya tersebut di atas, kerap dianggap sebagai akhir dari periode romantisme Mahfuz. Setelah karya-karya tersebut, ia menjauhi gaya bahasa Manfalutisme (gaya bahasa yang digunakan oleh al-Manfaluti). Kemudian Mahfuz menulis al-Qahirah al-Jadidah (1945).
Tahun 1946, Mahfuz menulis Khan al-Khalili. Selanjutnya berturut-turut ia menulis Zuqaq al-Midaq (1947), as-Sarab (1948), serta Bidayah wa Nihayah (1949). Karya-karyanya ini menandai perubahan gaya bertutur Mahfuz dari romantisme menjadi realisme. Pada tahun 1956-1957, Mahfuz mulai menulis triloginya; Baina al-Qasrain, Qasr asy-Syauq, dan as-Sukriyyah. Trilogi setebal 1500 halaman ini menjadikannya dianugerahi hadiah Nobel Sastra yang diterimanya pada tanggal 13 Oktober 1988 dari Akademi Sastra Internasional di Swedia.
Tahun 1960, Mahfuz menulis Aulad Haratina (edisi bahasa Inggris oleh Philip Steward dengan judul The Children of Our Quarter, London; 1981). Novel panjang ini terbagi dalam lima bab, yakni; Adham, Jabal, Irfah, Rifa'ah, dan Qasim. Penulisan serial novel ini sekaligus menggambarkan arah baru gaya kepenulisan Mahfuz, yakni Simbolisme-Filosofis.
Selanjutnya, Mahfuz menulis al-Liss wa al-Kilab (1961), as-Samman wa al-Kharif, dan Dunya Allah (1962), ath-Thariq (1964), Bait Sayyi' as-Sum'ah dan asy-Syihaz (1965) serta Sarsarah Fauza an-Nil (1966), masih dengan kecenderungan Simbolisme-Filosofis. Pertengahan tahun 1967 sampai 1969, ia membuat cerpen-cerpennya yang merespon persoalan-persoalan keagamaan, nasionalisme Mesir, dan politik. Hal ini bisa dilihat dalam Khimarah al-Qiththi al-Aswad dan Tahta al-Mizallah serta Qisytamar (1969), Hikayah Bi La Bidayah Wa La Nihayah dan Syahru al-'Asal (1971), al-Maraya (1972), al-Hubbu Tahta al-Mathar (1973), al-Karnak (1974), Hikayat Haratina, Qalbu al-Lail, dan Hadhrat al-Muhtaromi (1975), Milhamah al-Harafisy (1977), al-Hubbu Fauqa Hadhbat al-Haram dan asy-Syaithan (1979), 'Ashru al-Hubbi (1980), dan Afrah al-Qubbah (1981).
Pada tahun 1994, Mahfuz mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Ia ditikam di bagian leher dengan sebilah pisau dapur. Kejadian ini membuat tangan kanan Mahfuz hampir mengalami kelumpuhan. Dua orang anggota kelompok militan yang terlibat dalam kejadian ini, divonis hukuman mati oleh pemerintah Mesir.
Pada masa tuanya, Najib Mahfuz hidup dengan mata yang hampir buta dan kemudian meninggal pada 30 Agustus 2006 setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.
Penghargaan :
- 1968 hadiah kesusastraan dari Pemerintah Mesir
- 1972 menerima Decoration of Republic of the 1st Order.
- 1988 menerima Collar of the Nile which is the highest order in Egypt.
- 1988 menerima anugerah Nobel Sastra dari Akademi Nobel Swedia
Subscribe to:
Posts (Atom)