Translate
Sunday, April 7, 2013
PLAT
PLAT
Daerah Parakan merupakan daerah padat yang terletak di antara dua kota. Meskipun daerah ini dikatakan perkampungan namun layaknya kota banyak kendaraan mondra-mandir hingga membuat bising. Maklum desa ini memang terletak di daerah perkotaan yang penduduknya didominasi pendatang. Hanya 30% sajalah penduduk asli yang mendiami daerah Parakan tersebut. Termasuk pak Mail, laki-laki paruh baya namun masih tampak gagah ini, dengan kumis tipis merayu yang sedikit bergelombang, tatapan yang tajam dan badan tegap besar layaknya boudyguard di mal-mal. Bapak tiga anak dengan satu istri ini merupakan penduduk dan kelahiran Parakan asli. Sudah hampir 48 tahun ia tapakan kakinya di daerah tersebut sebagai juragan angkot. Sebagai putra daerah beliau paham benar daerah-daerah disekitar mulai dari sabang dan meraukenya Parakan. Bukan hanya itu, juga banyak cerita-cerita seram yang asing baginya.
Diluar daerah Parakan, masyarakat sekitar mengenal daerah ini dengan sebutan plat 28. Julukan yang belum bisa difahami kecuali setelah mendengar cerita aneh di daerah ini yang sudah terjadi semenjak 26 tahun silam. Parakan mulai didengar publik setelah terjadinya kecelakaann maut ganda yang menewaskan lebih dari 23 orang dan 5 orang dinyatakan hilang yang hingga sekarang belum ditemukan. Kejadian naas tersebut terjadi antara empat kendaraan, dua kendaraan bermotor, satu mobil xenia dan satu buah bus angkutan kota. Peristiwa tersebut terjadi pukul 15.08 sore hari tatkala sebuah motor bebek mencoba berputar arah tanpa memperhatikan keadaan sekitar, tanpa disadari berhenti mendadak dan diterjang bus angkot yang melaju dengan cepat dan tak menyadari kalau motor tersebut akan berhenti mendadak. Secara reflek supir bus mencoba menghindari motor itu namun tanpa disadari pula xenia silver melaju cepat disebelah kanan bus dan hantaman keras pun tak terhindari yang menyebabkan xenia tersebut terlempar keras kearah trotoar jalan dimana ada sepasang kekasih diatas motor tertimpa mobil xenia. Bus itu pula teguling-guling gingga 8 x putaran yang menewaskan semua orang ada di bus begitu pula pengendara motor, empat orang dalam xenia dan dua pasangan malang yang hidup dan mati ditempat kejadian.
Seminggu setelah kejadian tersebut Parakan gempar dengan adanya isu dan kabar bahwa semua kendaraan yang mengalami kecelakaan saat itu memiliki plat yang ada digit angka 28, baik diawal maupun terletak di akhir. “Plat yang membawa sial kata mereka”. Namun kabar tersebut tidak berlangsung lama karena banyak yang meyakini hal itu merupakan suatu hal yang tabu, kebetulan dan apa salah 28 hingga dijadikan plat yang membawa sial.
Tiga tahun kemudian Kabar Plat 28, membawa sial, kematian yang mengenaskan itu mulai tersiar kembali, bukan hanya di daerah Parakan tapi meluas hingga kedaerah yang lain. Hal ini dikarnakan terjadi lagi kecelakan yang membawa embel-embel plat 28 pada dua buah kendaraan yang menewaskan semua pengendaranya. Dalam jangka enam tahun terjadi kejadian yang sama pada beberapa kendaraan yang memiliki plat yang ada digit 28nya. Kejadian tersebut sontak membuat masyarakat sekitar menjadi ragu bahwa itu merupakan sebuah kebetulan dan mulai meyakini bahwa plat 28 platnya malikat pencabut nyawa. Orang-orang yang memiliki plat seperti itu pun sudah mereka cibir akan mati dalam kasus yang sama.
Namun hal itu berbeda dengan pak mail yang sama sekali tidak meyakini kabar tersebut. Bagi beliau kecelakaan itu wajar, dan plat 28 tersebut merupakan sebuah kebetulan saja. “didaerah kita banyak terjadi kecelakaan yang tidak memiliki plat 28, tapi kenapa hanya kecelakaan dengan plat 28 saja yang di besar-besarkan. Artinya ini kejadian kecelakaan yang wajar” dan juga semenjak 17 tahun lalu tidak ada kan kecelakan plat 28 lagi, tegas pak Mail saat berbincang-bincang dengan teman-temanya.
Tapi pak Mail, seru pak Joko yang tampak 5 tahun lebih tua dari pak Mail. Sambil menghisap rokok dan menedip-ngedipkan matanya ia berkata, “tidak ada kecelakaan plat 28 lagi kan karena didaerah kita ada larangan membawa kendaraan dengan plat tersebut, kalaupun harus dibawa dituntun sampai keluar daerah atau ditumpangkan dikendaraan lain.” Iya iya sahut pak Waluyo dengan semangat sambil menyeruput teh hangat buatan bu Mail,” ditambah lagi perbedaannya pak, kecelakaan plat 28 pasti merenggut nyawa ditempat. Berbeda dengan kecelakaan lain yang kalupun pengendara mati masih sempat dibawa-bawa.
Saya tetap nggak percaya pak sanggah pak Mail, saya putra bumi Parakan faham daerah saya, lagian kita semua pasti mati, iya kan? Allah tuh yang bilang lho. Bapak mau kapan dan gimana ni.. canda pak Mail dengan menepuk bahu pak Waluyo seraya tersenyum lebar. Tak ingin kalah bercanda, pak Waluyo berkata: “ iya juga sih, saya percaya kalau pak Mail ndak percaya hal itu, justru malah pak Mail ni punya platnya malaikat pencabut nyawa tu dirumah, jadi saya gak perlu tanya gimana, tapi kapan maunya” canda pak Waluyo agak meledek.
Setelah pak Waluyo dan Joko berpamitan pulang, pak mail tidak lantas masuk rumah, ia membatin sejenak. Ia ingin membuktikan hal itu sendiri namun juga bimbang. Kalupun akan diserahkan ke supir lain di daerah ini, siapa yang mau?
Pak mail memang memiliki sebuah angkot yang ber plat 28, ia pun tidak mengoprasikanya karena khawatir dan saran dari istrinya. Sebenarnya pak mail ingin mengoprasikan angkot tersebut dengan menggunakan plat lain atau menggantintya, namun karena ia benar-benar tak percaya akhirnya ia menyimpan plat tersebut.
Suatu hari 05 desember 2012 pak mail pergi kedarah Wangupadan guna mengurus surat-surat keluarga. Ia mengendarai sepeda motor hitam. Sekembalinya dan setiba dijalan dimana pernah terjadi kecelakaan 26 tahun silam, beliau merasa ada hal aneh. Ia merasakan hari yang tidak biasa. Dengan motor bebek terbarunya beliau tanacap gas agar bias cepat sampai dirumah. Perjalanan kerumah tidaklah jauh hanya membutuhkan satu jam perjalanan. Setibanya pertigaan ia memperlambat motornya dan tiba-tiba, sesuatu yang tak ia sangka dihadapan beliau sebuah mobil carry biru dengan kecepatan 160 KM per jam menghantam dua buah kendaraan bermotor yang terpental kurang lebih tujuh meter dari hadapan pak Mail. Pak Mail tidak bisa berkedip. Rasanya ia melihat malaikat Izrail turun dihadapanya mecabut nyawa dua pengendara bermotor terebut kemudian berpaling kepadanya seraya tersenyum dan berkata, giliranmu….?
Pak Mail tidak bisa bergerak sedikitpun, tangan dan kakinya kaku, mulutnya serasa diperban 50 kali perban hingga mengeluarkan kata ah saja sulit rasanya. Dalam keheningan beliau hanya dapat melihat orang-orang berkerumun ditengahnya. Malaikat Izrail masih tersenyum padanya angka 28, 28, 28 terus terbayang dipikiranya. Yang membuat beliau bertambah shok adalah ternyata beliau melihat mayat yang diangkut oleh masyarakat adalah jasad beliau dengan penuh luka, kepala dipenuhi darah segar mengalir, tampak terlihat retakan di kepala. Pak Mail ingin sekali memejamkan matanya, namun senyuman malaikat pencabut nyawa tersebut membuat matanya berhenti berkedip, secara perlahan tangannya terasa dingin tersentuh malaikat itu. pak Mail mencoba berontak, memberontak lagi hingga akhirnya mata beliau dapat berkedip kembali. namun ia tak mendapati malaikat Izrail tersebut dihadapanya, justru istrinyalah yang memegang tangan pak Mail dengan erat seraya meneteskan air mata bahagia karena beliau sudah siuman. Badan pak Mail, menggigil dan basah kuyub karena keringat kejang-kejang. Ia pinsan saat menyaksikan kecelakan maut tersebut dan dibawa oleh masyarakat kerumah. Selama perjalanan ia hanya mengucapkan angka 28 giliran ku.. giliran ku yang membuat isri dan anak-anaknya takut.
Sehari kemudian pak Mail berfikir apa makna dari kejadian yag menimpanya kemarin, ia masih tak percaya namun selalu merasa takut jika mengingatnya. Pak mail meyakini ada hikmah dibalik kejadian itu. Pukul 14.09 tiba-tiba pak Mail berpamitan dengan keluarga untuk pergi keluar. Dengan cepat pak mail keluar membawa angkotnya yang ber plat 28 tersebut, sang istri yang mengetahui hal itu mencoba mengejar dan meminta bantuan warga untuk mencegah beliau. Semau tetangga berhamburan, mengejar beliau dengan kendaraan mereka masing-masing. Istri pak Mail pun ikut dengan salah sorang tetangga, ia tak henti-hentinya menagis.
Pak Mail sendiri tak tau apa yang akan ia lakukan, ia hanya percaya dan berdoa. Ia tancapkan gas penuh menuju jalan dimana terjadi kecelakan 26 tahun silam. Beberapa saat kemudian Suara benturan keras pun terdengar. “Kecelakaan” teriak warga, “plat 28 lagi”. Mendengar suara tersebut bu Mail jatuh pinsan dari motor. Mobil angkot pak mail menabrak trotoar jalan hingga menggulingkan angkotnya. Dalam mobil tersebut pak Mail tidak bergerak. Para warga dengan cepat berupaya mengevakuasi pak mail dari mobil angkotnya. Setelah evakuasi para warga takjub pak Mail hanya mengalami luka ringan di siku tangan, tiba-tiba beliau bangun tersenyum dan langsung pulang kerumah.
Setelah kejadian itu banyak orang yang berkunjung ke rumah pak Mail, mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan pak Mail kenapa sikapnya aneh, seolah ingin bunuh diri dengan menantang maut, membawa kendaraan plat 28 dengan kecepatan tinggi. Disetiap perbincangan pak Mail selalu berkata : “saya hanya percaya, meyakini kehendak Tuhan, saya masih hidup karena kehendaknya, plat itu bukan penentu nasib saya. Sejenak Ia helakan nafas, memandang langit seraya tersenyum dan berkata: Sekarang saya semakin percaya.
GERIGI MAHKOTA SIGER
GERIGI MAHKOTA SIGER
Lautan terhampar luas. Kupandangi sekelilingku hanya dapat kulihat beberapa pulau-pulau kecil. Aku tak tahu apakah pulau-pulau itu berpenghuni, tetapi nampak ada beberapa perahu nelayan dan gubuk disana. Angin terus berhembus, mengombang-ambingkan rambutku. Kuhanya menatap buih-buih air yang semakin menjauh dan menghilang. Sesaat kupalingkan wajahku. Sudah tampak dari kejauhan bagunan khas, berwarna kuning emas dengan tujuh tanduk besar. Landmark of Lampung, Menara Siger yang menjadi tanda sebagai titik nol pulau Sumatra. Bangunan dengan tinggi sekitar 30 m menjadi tanda bagi para penumpang kapal bahwa mereka sudah mendekati pulau Sumatra. Bangunan yang menjadi icon Lampung saat ini juga menjadi tempat pariwisata. Dari dalam Menara Siger kita bisa melihat luasnya Selat Sunda. Keindahan alam yang diberikan sangat luar biasa. Dari ketingggian 110 diatas permukaan laut. Ya, kalau di Paris ada menara Eiffel, Jakarta ada Monas, Bukittinggi ada Jam Gadang, Palembang ada Jembatan Ampera, Bandung ada Gedung Sate, Kalimantan Barat ada Tugu Khatulistiwa dan Yogyakarta ada Tugu Jogja. Nah, kalau di Lampung inilah iconnya, Menara Siger. Selintas kuingat bahwa Siger merupakan benda yang sangat penting bagi penduduk Lampung, baik yang beradat Saibatin maupun Pepadun. Siger direpresentasikan sebagai mahkota keagungan dalam adat budaya Lampung. Guruku dulu pun pernah berkata bahwa siger bukan hanya sekedar lambang dari daerah Provinsi Lampung, melainkan gambaran dari sikap orang lampung sejak dulu. Jadi, benda ini memiliki makna filosofi yang sangat dalam bagi masyarakat lampung, khususnya pribumi. Lima kembang penghias Siger itu yang melambangkan lima sikap penduduknya, yakni: Pill Pusanggiri, Juluk Adok, Nemui Nyimah, Negah Nyampur dan Sakai Sambayan. Kepulanganku saat ini karena kakak perempuanku akan menggunakan mahkota Siger pada acara pernikahanya. Sungguh merupakan kebanggaan bagi kami. Menurutku tak salah kiranya Siger ini dijadikan icon Lampung, mengingat makna Siger yang sudah melekat erat pada masyarakatnya.
Menara yang terlihat dari tengah lautan menunjukan titik nol pulau Sumatra yang dimulai didaerah yang dulu dikenal sebagai sumber Lada Hitam. Dalam perjalanan dari Bakauheni ke Tanggamus. Karena sudah lama tak pulang, ku benar-benar dibuat kagum. Disetiap toko, rumah, pusat perbelanjaan terdapat hiasan Siger diatas pintunya. Benar-benar simbol yang dijadikan ciri khas provinsi ini. Jadi, kalau disebut kata Siger pastilah Lampung yang dituju. Seperti Jakarta dengan Monasnya, pada level internasional seperti New York dengan patung Liberty, Paris menara Eiffel. Dalam perjalanan tak hentinya ku memandangi bangunan-bangunan itu. Hingga rasa lelahku selama perjalanan membuatku terlelap dalam kekaguman.
***
Rumah sangat ramai. Kebun-kebun coklat dekat rumah masih terlihat berjejer rapi seperti empat tahun yang lalu saat ku tinggalkan daerahku ini, hanya ada sedikit perubahan, dimana berdiri rumah baru yang masih sangat asing bagiku. Kulihat anak-anak sudah hilir mudik ke sekolah, muda-mudi sudah mulai beraktifitas.
“Dimana kakaku?” pikirku
Beberapa saat kulihat ia sedang duduk bersama ibu di ruang tengah, ia tampak bahagia, ku pun ikut bahagia.
“Kakak akan memakai mahkota Siger itu?” tanyaku padanya.
“Iya, tentu” jawab kakak dengan yakin.
“Apa kamu ingin mencobanya?” ia balik bertanya seraya tersenyum.
“Nampaknya sangat berat, apa kakak mampu memakainya?” candaku padanya. Namun ia hanya tersenyum.
“Kami dulu sering bertengkar masalah-masalah sepele. Karena ia anak wanita satu-satunya, terkadang kumerasa iri melihat perhatian lebih padanya. Namun sekararang berbeda. Suaminyalah yang akan membimbingnya. Mungkin kuakan sulit bertemu denganya lagi. Apalagi sekembalinya aku ke kota. Bahkan mungkin tak akan berjumpa lagi” ujarku dalam hati.
Sebelum hari pernikahanya, rumah sangat ramai. Bersama masyarakat aku memasang tarub hingga ke daerah tetangga. Membabat rumput-rumput yang sudah mulai meninggi, mempersiapkan segalanya. Acara ini seperti acara mereka sendiri, sikap gotong royong yang hangat yang sudah lama tak kurasakan saat tinggal di kota. Seperti sikap masyarakat yang tercermin dalam lima kembang penghias yang bertengger pada Siger, salah satunya yakni Sakai Sambayan (senang bergotong royong dan saling membantu dengan masyarakat luas).
Dihari pernikahan, seperti adat biasanya, kakaku keluar dengan pakaian adat Lampung, ia nampak bagai seorang putri raja, berjalan anggun dengan mahkota Siger dikepalanya. Pipinya kemerah-merahan, kakaku sangat cantik. Ia tersenyum melihatku. Ia berjalan perlahan-lahan. Namun Saat kuperhatikan, nampaknya ada yang aneh.
“Mahkota Siger itu, kenapa jumlah tanduknya ada 13?” Tanyaku dalam hati.
Kuperhatikan sekali lagi dan kuhitung berulang-ulang, satu, dua, tiga, empat..... tiga belas. Bukankah seharusnya tujuh atau sembilan. Dengan angka tiga belas itu ku mulai berfikir yang aneh-aneh. Angka jelek, angka buruk, angka membawa sial.
“Ini pasti karena mataku yang sudah agak rabun” kucoba yakinkan diri.
Belum pernah kulihat ada mahkota Siger bertanduk 13. Sambil berfikir kucoba meyakinkan diriku. Kucoba tenang, namun masih saja pikiranku bertanya-tanya. Saat pikiranku masih kacau karena keanehan itu, mendadak suasana hening, hilang, sangat sepi, tak terdengar suara-suara kecil pun ditelingaku. Orang-orang terlihat panik, gugup. Getaran apa ini. Makin lama makin membesar. Tiba-tiba kesunyian itu pecah, suara gemuruh orang-orang dimana-mana, mereka panik. Dari kejauhan terdengar suara yang kian detik terdengar makin jelas. Lindu....lindu...ada lindu... semua orang makin panik, lari tunggang-langgang. Getaran semakin kuat, kucoba tetap berdiri. Gempa ini makin besar, entah berapa skala richter. Tanah seolah naik turun menggoyak isi perutku, sudah tak jelas pandangan ini karena semua sudah bergoyang tak tentu, bangunan-bangunan pun nampaknya ikut bergerak tak tentu. Seperti berada di lautan dengan ombak yang besar, kami semua terombang-ambing. Tarub- tarub yang telah kami pasang semuanya rubuh, panggung pernikahan berantakan. Kepalaku makin pusing. Semua orang berlarian tak tentu mencari tempat berlindung, Semua orang berfikir menyelamatkan diri mereka masing-masing. Gempa ini makin besar, dimana kakak, dimana keluargaku. Semuanya mulai tak tampak, puluhan orang berlarian disekitarku serta berteriak-teriak ketakutan. Sesaat kemudian suasana kembali sunyi, banguanan-bangunan tinggal puing-puing, sudah rata dengan tanah. Semua gelap.
***
Saat semua menjadi terang. Kusadar sudah dimana kuberada, tempat yang sangat ramai, mulai dari laki-laki, wanita, anak-anak serta wanita-wanita sepuh berkumpul dalam satu tempat. Tenggorokanku terasa kering. Lemas sekali rasanya tubuh ini. Kulihat sekelilingku semuanya rata, orang-orang meratapi apa yang sudah terjadi. Semuanya berantakan.
“Lalu dimana kakak, ibu dan ayahku. Dimana keluargaku? Ku bertanya pada diri sendiri.
Segera kucari mereka. Kuperiksa satu persatu barak-barak pengungsian yang penuh dan sumpek itu. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Setelah beberapa saat mencari, dari kejauhan nampak seperti benda yang membuat pikiranku ingat sesaat sebelum gempa itu datang. Itu... mahkota siger kakaku. Ku yakin itu. Segera ku menghampirinya dan berharap keluargaku berada disana. Iya, ini mahkota Siger kakaku, bertanduk 13, jumlah angka yang membuatku merinding. Kenapa mahkota ini bertanduk 13. kumenoleh ke kanan dan kekiri mencari keluargaku dengan mahkota masih ditangan. Seorang petugas yang melihatku mendekat dan bertanya.
“Maaf apa yang sedang abang cari, adakah yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu menawarkan bantuan.
“Oh, iya, dimana benda ini ditemukan. Aku mencari keluargaku, kakaku yang memiliki mahkota ini”. Ujarku dengan penuh harapan bahwa mereka masih hidup dan bisa berjumpa denganku.
“Kalau begitu abang ikut saya” ajak sang petugas.
Petugas itu berjalan sangat cepat, aku pun ingin menyusulnya. Kami melewati beberapa barak yang tadi belum sempat kudatangi.
“Innalillahi wa inna ilai raji’un,” aku kaget.
Setelah melalui beberapa barak-barak itu, kumelihat ada satu barak yang penuh dengan mayat-mayat korban gempa. Rasa ketir dihatiku mulai muncul. Begitu banyak korban, tak kuasa kumelihatnya. Sambil terus mencari, hatiku mulai merasa lemah. Air mataku mengalir seraya menyebut ketiga orang yang kusayangi itu. Bibirku gemetaran.
“Ya Allah jika benar diantara mayat-mayat ini ada keluargaku, sungguh tak kuasa ku berdiri tegak menahan berat tubuhku. Air mata ini pun mungkin akan menguras muaranya hingga kering habis” ujarku dalam hati.
Dengan rasa sendu dan tangis kecil, kumulai menyusuri satu persatu mayat tersebut. Ketika melihat wajahnya dalam hati kuberharap bukan keluargaku, bukan keluargaku. Hingga akhir, tak kudapati keluargaku terbujur lemas diantara tubuh-tubuh tak berdaya itu. Hatiku merasa lega namun masih timbul kecemasan karena aku belum menemukan mereka.
“Salah seorang petugas mengatakan bahwa mahkota itu berada ditangan salah satu mayat saat benda itu temukan” petugas itu berkata dengan mengelus pundakku mencoba memberikan dorongan untuk bersabar.
“Apa petugas disini memiliki daftar nama-nama korban yang selamat ataupun meninggal Pak?” dengan masih berbalut kesedihan kubertanya.
“Mari ikut saya” ajak petugas itu lagi.
Ia berjalan lagi dengan cepat, namun kali ini aku tak bisa mengimbangi jalanya. Kuberjalan lurus dengan kepala menoleh kekiri dan kanan melihat semua kehancuran yang disebabkan beberapa menit gempa dahsyat itu. Sesampainya di post jaga. Kumulai memeriksa nama-nama korban yang meninggal satu persatu. Ku mulai dari daftar itu dan berharap tidak ada daftar nama keluargaku baik ibu, ayah dan kakak perempuanku. Dari lembar pertama kubalik, kedua ketiga hingga lembar terakhir. Total korban tewas mencapai lebih dari 80 orang. Setelah yakin memeriksa daftar tersebut. Kuberalih ke daftar korban selamat. Dengan penuh antusias kuperiksa detail sekali, satu nama bisa kueja berkali-kali. Lembar pertama, lembar kedua, pada lembar ketiga, dibaris ke 13 ada nama Lestari.
“Ini nama kakaku. Iya ini nama kakaku. Alhamdulillah” ucapku keras
Kucari lagi nama kedua orang tuaku. Lembar demi lembar namun tak ada.
“Kenapa tidak ada” ujar ku berbisik.
Kembali kuperiksa lembar ke tiga, baris ke 13, Lestari.....
“Iya ini nama kakaku,” Tapi,.. dari desa Pejulungan sedangkan desaku Waydalam. Kembali ku berlinang air mata. Apa-apaan ini. Kenapa nama mereka sama, ingin sekali kuganti nama desa Pejulungan itu dengan nama desaku, lalu kurobek-robek kerta itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Kembali kududuk tersungkur ke tanah. Tak habis pikir, nama ketiga orang yang kusayangi tidak ada baik didaftar kematian maupun orang selamat. Aku hanya terdiam. Sesaat ku bangkit dan bertanya lagi.
“Apakah ada buku daftar lain Pak?”
“Ini ada buku daftar nama warga yang belum ditemukan hingga saat ini?” ujar sang petugas
Kuambil buku itu, mataku lembab dengan air mata yang sedari tadi mengalir. Kubuka hanya ada satu lembar. Ada tiga orang yang belum ditemukan. Tertulis nama, Ujang Ahmad, Murnia dan Lestari ketiganya dari desa Waydalam. Mataku yang sudah lembab membengkak. Kembali melinangkan air mata. Mereka belum ditemukan, keluargaku menghilang.
***
Hari demi hari. Kumasih setia di pengungsian. Menanti petugas menemukan keluargaku yang hilang. Aku tak tahu nasib mereka karena menghilang dan tak ada kabarnya sama sekali. Aku hanya percaya dan yakin mereka masih hidup. Hari ke tujuh setelah gempa. Suasana pengungsian sudah tak seheboh kali pertama. Nampakanya mereka sudah mulai beraktifitas meski masih sebagai pengungsi, mencari puing-puing tersisa, menanti bantuan pemerintah, dan mengharap kemurahan hati orang lain. Anak-anak bermain di sekitar situ, berlari-lari. Mereka tak sekolah karena bangunan sekolah pun ikut rata dengan tanah. Keesokan harinya kuikut bersama petugas berjalan-jalan melihat puing-puing rumah yang runtuh. Kuputuskan untuk pergi kedesaku, melihat kondisi rumah, tarub-tarub dan pangung kebahagiaan yang pastinya porak-poranda. Sementara ini tak ada angkot yang beroprasi. Menuju ke rumah memerlukan waktu dua jam dengna berjalan kaki karena barak pengungsian berada di daerah kota. Selama perjalanan hanya puing-puing yang kulihat, sesekali ada beberapa warga yang mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. Sesampainya didesaku. Suasana sepi. Hanya beberapa orang saja yang tampak. Rumahku hancur, tarub, kayu-kayu panggung itu masih berada disana belum dibereskan. Semua nampak sangat luas tak ada yang menghalangi pandanganku. Kucoba duduk beberapa saat di atas puing-puing rumahku. Kutarik nafas panjang.
“Dimana keluargaku, selamatkanlah mereka, pertemukanlah kami” air mata itu kembali menetes. Tak ada yang tersisa. Hanya puing-puing. Malam itu kuputuskan untuk bermalam disana. Angin dingin berhembus menjalar tubuh kurusku. Malam ini gelap sekali hanya sinar rembulan yang masih bersinar. Entah ia tersenyum atau ikut sedih bersamaku. Malam itu, hanya doa yang selalu kulantunkan. Harapan, keyakinan bahwa mereka masih hidup dan kami akan bertemu lagi. Kubaringkan tubuhku yang disenari rembulan. Mulutku tak henti berdoa, hatiku terus berharap dan percaya namun mataku pun tak henti-hentinya mencucurkan air mata. Mataku sembab basah. Beberapa saat, ada suara seseorang yang membangunkanku, ia menyentuhku, mengerakan tubuhku. Karena tangis, mataku menjadi lengket dan sulit untuk kubuka.
Seseorang berucap, “Hey,.... kenapa matamu, kamu tidur sambil menangis”.
Ku kenal suara itu.. itu suara kak Lestari. Allah mengabulkan doaku. Kukucek mataku agar bisa melihatnya. Benar ini kakaku, kak Lestari. Ia selamat, apakah ini hanya mimpi.
“Kakak selamat” teriaku kegirangan.
Semua orang melihatku heran. Kuterus berteriak, bersyukur,
“Ya Allah terimakasih, Engkau selamatkan kakaku”.
“Hey, Yan, kamu ini kenapa?” tanya kakak bingung.
Ku tersenyum melihat wajahnya. Namun beberapa saat kemudian, kulihat sekelilingku, ada ibu, ayah dan para tetangga melihatku keheranan. Sekarang aku yang heran ada apa ini. Ini desaku, rumahku, kakak, ibu, ayah dan para tetangga serta ini mahkota siger betanduk sembilan bukan tiga belas. Kuberlari keluar. Kulihat sekelilingku semuanya kembali seperti semula. Kumasih heran. Keluargaku ikut keluar dan merasa heran dengan tingkahku.
Dengan tersenyum kuberteriak, “Terimakasih ya Allah”.
Aku benar-benar tak tahu apakah tragedi gempa itu hanya mimpi ataukah saat ini aku sedang bermimpi dan semuanya saat ini hanyalah mimpi. Entahlah, yang pasti, kubersyukur karena saat ini kuberkumpul dengan keluargaku. Kulihat lagi mahkota Siger kakakku ini, kuyakin tanduknya ada sembilan bukan tiga belas.
By : Septian S
BIODATA
Nama : Septian Saputro
Alamat asal : Kuripan, Kotaagung, Tanggamus, Lampung
Alamat sekarang : Jl. Ambarukmo. RT 01 RW 02. No. 107 Condongcatur Yogyakarta.
No Handphone :
NIK : 1806012409900001
Alamat Facebook : ianseptian12
Alamat Twitter : @septiansaputro
ianseptian12@yahoo.co.id
Cerpen : Harapan sang lilin kecil
kalau nulis aja mungkin mudah tapi hasilnya belum tentu baik. semua orang bisa menulis tapi ngak semua orang bisa menulis dengan baik. ada baiknya mengikuti saran ini kalau pengen nulis "kalau mau nulis-nulis aja jang dipikir dulu" ini baik buat kita biar gak terlalu pusing mau nulis apa yang dipikir baru nanti hasil tulisanya. namun baiknya jika dibuat kerangka biar tulisanya gk lari ngalor ngidul.
so friend... nulis itu kebiasaan. Harus banyak prakteknya selain itu juga harus banyak baca.
jadi yuk kita sama-sama belajar menuangkan pikiran bukan hanya dengan celotehan tapi dengan tlisan.
HARAPAN SANG LILIN KECIL
Tok.. tok.. tok tok tok … inilah suara ketukan pintu yang setiap harinya ku dengar pukul 03.00 dini hari, ketukan lemah lembut dari jari-jari mungil seorang anak wanita, adikku yang tiga hari lagi akan menginjak usia delapan tahun. Nadia Salwa Nisa, suaranya yang agak serak basah ditengah campuran suara guyuran hujan membuat suaranya makin sayu melembut, gadis mungil belahan hatiku, bidadari dan malaikatku, satu-satunya wanita yang ku miliki setelah dua tahun lalu keluargaku menghilang. Kami tinggal bersama bu Yanti, pembantu orang tua kami yang masih mau setia menemani kami. Hingga saat ini tidak sekelumit informasi pun ku dapatkan mengenai keluargaku, hingga putus asaku mencarinya. Lebih-lebih lemahnya hatiku juga membuat cibiran orang-orang itu makin menciutkan hati. Namun berbeda dengan Nadia, ia hanya bersandar dengan keluarga tidak kurang dari enam tahun, keyakinanya yang tak wajar bagiku selalu memacuku untuk terus optimis dan tersenyum. Terkadang ku berfikir di umur yang akan menginjak delapan tahun ini, ia bisa bersikap dewasa jauh melebihi diriku. Tok…tok..tok.”.Kak.”.sapa Nadia membangunkanku lagi, sekejap ku tersadar dari lamunan persekian detik tadi, ku lihat jarum jam sudah akan mengunjungi angka tiga tepat. Seperti biasa saya harus bangun, ucapku dalam hati. “Iya Nadia..” selaku seraya melangkah kearah pintu, ku buka perlahan, tampak wajah penuh keceriaan berseri-seri memancar, rautnya yang manis menambah semangtku, kemudian ku kecup keninganya seraya berkata “Kakak akan ambil wudhu dulu, Nadia tunggu diruang shalat ya”. “Iya kak” jawab Nadia sembari tersenyum.
Setelah shalat tahajud kami berdoa, seperti biasa Nadia yang memimpin, ketulusan hatinya membuatku seolah-olah bisa menentukan takdir bahwa nantinya ia akan menjadi panutan. Amin... seru Nadia. Tanpa sadar ia telah usai berdoa, kali ini ku melewatkan doa bersamanya dalam lamunan. Ku tarik ia kepangkuanku, kupeluk erat sekali seakan kami akan berpisah jauh.. beberapa detik hening menyelimuti kami.
Kak,, “suara Nadia terlontar. “Ia Nadia”. ku jawab perlahan. Nadia melanjutkan “Kita akan berjupa ayah dan ibu”. Ku peluk ia makin erat. “Nadia janji” tambah Nadia meyakinkanku. Mendengar kata-kata itu tak tahan ku bendung tangis ini, ku peluk erat Nadia, ku sapu linangan air matanya yang sedari tadi mengalir tersendat-sendat, makin erat pelukanku, semakin erat. Senduku lapisi dengan senyum lantas ku berkata “Iya Nadia benar, kita akan bertemu ayah dan ibu, ditempat yang indah dimana ada Nadia-Nadia mungil lain dan kak Diana lain”. “Tidak kak” sangah Nadia. “Mereka akan menghampiri kakak dirumah ini, mereka akan membawa seorang anak laki-laki sementara Nadia akan menemui ayah dan ibu”. Ku turut dalam tangisan bersama Nadia, kata-kata itu menyelinap masuk ke hatiku menyentuh muara yang terselubung kerinduan akan ayah dan ibu.
***
Pukul tujuh kurang lima belas menit, setelah berpamitan dengan bu Yanti yang sedang berada di dapur, ku antar Nadia ke sekolah dasar, tidak jauh dari tempat kami tinggal hanya 100 M. Nadia dikenal oleh guru-guru, sebagai anak yang cerdas, pemberani, santun dan bersemangat, mereka menilai Nadia lebih dewasa dari teman-temannya. Satu bulan yang lalu, saat diadakan lomba pidato dengan tema; Orang Tua, Anak dan Masa Depan, secara mendadak ia diminta menggantikan Rudi teman sekelasnya yang tiba-tiba sakit saat akan berlomba. Tanpa pikir panjang dan persiapan apapun, ia mengangguk lantas berkata., “Iya, dan saya bisa bu”.. yang membuat para guru takjub yakni ia mampu berpidato dengan semangat membara tanpa terputus-putus, seakan-akan piawai berpidato seperti bapak Soekarno, Bung Hata, Bu Kartini, ia berkata-kata seindah mutiaranya Imam Gahazali dan Imam syafi’i. Diujung pidatonya ditengah ribuan mata menyaksikan, ia berdiri tegak agak condong ke kanan, tangan kanannya menggenggam dan tangan yang lain ia dekapkan di dada kanan, dengan semangat ia berucap “ Teman-teman, hidup optimis, hidup yang punya masa depan, pesimis akan suramkan hal-hal bahagia yang ada dihadapan kita”. “Untuk teman-teman yang masih berbalut kehangatan kasih sayang papa-mama” suara Nadia makin meredup. Seketika Nadia memandang sekelilinganya, ia memandang langit dan berkata dalam hati “Tuhan, tak lama saya merasa hangat pelukan mama, kasih sayangnya saat ini ingin ku persembahkan untuk kakakku tercinta, kak Diana. Tetesan air mata Nadia, mulai mengalir menemani akhir pidatonya.. ia masih memandang langit, matanya terus berlinang air mata. Penonton terbawa hanyut kesedihan Nadia, mereka ikut menangis, dari kejauhan dipojok kursi belakang ku saksikan sendiri adik kecilku, andai ayah dan ibu ada, mereka akan bangga.
****
Pagi hari sedikit cerah, bayangan pepohonan tak tampak karena matahari dipunggungi awan. Rumah sepi, namun tiba-tiba Nadia berteiak..”Kak Diana……” ia berlari, berteriak-teriak. Kekanak-kanaknya tampak. “Ada apa Nadia..?” “doa Nadia akan segera terkabul kak ?. “Doa “?? Dahi ku mengerut bingung. Nadia hanya tersenyum, ia berlari mendekatiku dan mencium pipi kananku, sebelum ku berucap ia langsung pergi ke kamarnya lagi. “Ada apa Diana?” Tanya bu Yanti heran. “Tidak bu, itu Nadia tampaknya bahagia sekali, doanya kan terkabul, doa yang mana ya bu?”.. “Entahlah” jawab bu Yanti. “Apapun doa Nadia, ibu rasa itu hal yang baik buat dia dan kamu”. “Nadia bisa memahami keadaan dan ingin merubahnya, ia calon wanita yang hebat, dan tegar Din” Bu Yanti melanjutkan, “Kamu juga harus bahagia Din, bukankah keluarga Rio akan datang melamarmu malam ini”, senggol bu Yanti agak genit. Aku hanya tersenyum dan berkata : “Iya bu…”
Jantungku berdebar kencang, darah cepat melaju mengitari tubuhku, namun tanganku terasa dingin kaku. Ku ambil segelas air putih, ku teguk. Ku bahagia karena malam ini akan ada yang melamarku. Nadia sejak tadi mengamatiku, ia tercengang melihat kakanya yang modar-mandir mengambil air minum. “Kak Diana, duduk sini..” ia mengulurkan tanganya mengajakku duduk. “Tenang kak.” mutiaraku berucap. Ia merangkulku. “Kakak akan hidup bahagia dengan kak Rio” Bisik kecil Nadia. “Nadia akan ikut kakak” kataku pada Nadia. “Tinggal bersama kakak dan kak Rio”. “Tidak kak” sanggah Nadia. “Nadia tidak ingin merepotkan dan menjadi beban kakak, Nadia punya tujuan, cita-cita tinggi, Nadia ingin menjadi seorang yang bisa memberi kehangatan kepada orang lain. Nadia ingin jadi lilin meskipun terang redup tapi ia masih bisa menerangi sekitarnya, kakak kuat, Nadia pun kuat, kita wanita kuat kak”. “Nadia…” keluh ku. “Kamu satu-satunya keluarga yang kakak punya, haruskah kita berpisah?, kakak tak sanggup Nadia”. Nadia melepas pelukanya dariku ia menggenggam tanganku kemuadian berkata “Nadia akan selalu bersama kakak, meskipun tidak dalam satu tempat kak. Jiwa Nadia selalu ada jika kakak menyadarinya”. Perbincangan kakak dan adik tersebut berlangsung lama hingga keluraga Rio datang, proses lamaran berjalan lancar, dan langsung menentukan tanggal pernikahan.
***
Dua hari lagi halalku, debar-debar ini tidak hanya karena aku akan memiliki pendamping hidup tetapi juga karena akan berpisah dengan adikku yang tak ingin tinggal bersama. Untuk beberapa saat aku akan sering mengunjunginya. Hari H (hari pernikahan) berjalan lancar. Sehari, dua hari, tiga hari dan berhari-hari ku selalu mengunjungi Nadia tiap sore.
21 April 2012, sore hari tak seperti biasanya, rumah sepi. Nadia tak tampak, bu Yanti juga tak tampak. “Kemana mereka?” pikirku resah. Diluar ada suara mobil menderum dan berhenti didepan rumah, Rio suamiku kembali, ia tergesa-gesa masuk kerumah hingga lupa mengucapkan salam. Dengan terengah-engah ia berkata “Dek... kita kerumah sakit Mitra sekarang, Nadia dirawat”. Sontak ku kaget, wajahku memucat pasi, tanganku gemetar tak karuan, kedua kakiku rasanya tak kuat menopang hingga ku seperti akan jatuh. Suamiku menuntunku masuk kedalam mobil. Kami meluncur cepat ke rumah sakit Mitra, dengan rasa cemas, ku berlinangan air mata, mengucur deras.
Rumah sakit Mitra tak seramai pasar malam dengan kegembiraan, banyak isak tangis dipojok ruangan yang beberapa tulisanya sudah hilang (KA AR M YAT) . Namun hal itu tidak menafikan kegembiraan sekelumit orang yang bersyukur karena keluarganya sudah bisa dibawa pulang. Didepan ruangan khusus yang saya tak tahu namanya, bu Yanti tampak duduk sendiri, kami langsung menemuinya. Dari luar kamar ku bisa melihat Nadia berbaring. Ku masuk dan menemuinya, Nadia tampak sehat, tak terbalut perban, tak ada luka ditubuhnya, tak ada tanda-tanda ia harus berbaring di ranjang besi, ia diselimut kain hitam putih memanjang. Nadia tersenyum. Ku bertanya dan memegang tanganya “Kenapa Nadia bisa berada disini?” Ia tak menjawab pertanyaan ku, justru kata-kata yang keluar dari dua bibir tipisnya adalah “Ini jalan menuju terkabulnya doaku kak, doa yang sudah hampir dua tahun ini kita lantunkan, dalam selubung kain putih bertali diatas hamparan sajadah”. Nadia melanjutkan “Ibu ayah sudah datang kerumah dengan seorang anak laki-laki, Nadia juga akan menjemput ibu dan ayah. Kita akan hidup bahagia kak, meskipun tidak dekat, jiwa Nadia akan ada bersama kakak. Nadia sayang kakak..”.. Semua terdiam, Nadia juga terdiam senyap, keharuan masuk dalam ruangan ukuran 4 X 5 M itu. Literan air mata mungkin sudah ku keluarkan, hingga rasanya kering tak kumiliki lagi. Namun malam itu semua tersapu suasana haru, untuk terakhir kalinya ku peluk erat tubuh adik ku, air mataku mengalir kembali, air mata yang berasal dari sumberku yang terdalam yang menjadi saksi perpisahan kami.
Ku sudah bertemu dengan ayah ibu yang menjadi orang tuaku, dan anak-lakinya menjadi suamiku, Nadia pergi, menjemput ayah dan ibu... “Tidak” ! ia tidak pergi. Semangatnya, cita-citanya, tekadnya, pikiranya, dan senyumannya selalu ada mendampingiku.
Setahun kemudian seorang anak wanita hadir kedunia, ia merupakan pencerah, lilin baruku. Ku namai ia Nadia Putri Diana anak ku jiwa adik ku.
Subscribe to:
Posts (Atom)