Translate
Sunday, April 7, 2013
GERIGI MAHKOTA SIGER
GERIGI MAHKOTA SIGER
Lautan terhampar luas. Kupandangi sekelilingku hanya dapat kulihat beberapa pulau-pulau kecil. Aku tak tahu apakah pulau-pulau itu berpenghuni, tetapi nampak ada beberapa perahu nelayan dan gubuk disana. Angin terus berhembus, mengombang-ambingkan rambutku. Kuhanya menatap buih-buih air yang semakin menjauh dan menghilang. Sesaat kupalingkan wajahku. Sudah tampak dari kejauhan bagunan khas, berwarna kuning emas dengan tujuh tanduk besar. Landmark of Lampung, Menara Siger yang menjadi tanda sebagai titik nol pulau Sumatra. Bangunan dengan tinggi sekitar 30 m menjadi tanda bagi para penumpang kapal bahwa mereka sudah mendekati pulau Sumatra. Bangunan yang menjadi icon Lampung saat ini juga menjadi tempat pariwisata. Dari dalam Menara Siger kita bisa melihat luasnya Selat Sunda. Keindahan alam yang diberikan sangat luar biasa. Dari ketingggian 110 diatas permukaan laut. Ya, kalau di Paris ada menara Eiffel, Jakarta ada Monas, Bukittinggi ada Jam Gadang, Palembang ada Jembatan Ampera, Bandung ada Gedung Sate, Kalimantan Barat ada Tugu Khatulistiwa dan Yogyakarta ada Tugu Jogja. Nah, kalau di Lampung inilah iconnya, Menara Siger. Selintas kuingat bahwa Siger merupakan benda yang sangat penting bagi penduduk Lampung, baik yang beradat Saibatin maupun Pepadun. Siger direpresentasikan sebagai mahkota keagungan dalam adat budaya Lampung. Guruku dulu pun pernah berkata bahwa siger bukan hanya sekedar lambang dari daerah Provinsi Lampung, melainkan gambaran dari sikap orang lampung sejak dulu. Jadi, benda ini memiliki makna filosofi yang sangat dalam bagi masyarakat lampung, khususnya pribumi. Lima kembang penghias Siger itu yang melambangkan lima sikap penduduknya, yakni: Pill Pusanggiri, Juluk Adok, Nemui Nyimah, Negah Nyampur dan Sakai Sambayan. Kepulanganku saat ini karena kakak perempuanku akan menggunakan mahkota Siger pada acara pernikahanya. Sungguh merupakan kebanggaan bagi kami. Menurutku tak salah kiranya Siger ini dijadikan icon Lampung, mengingat makna Siger yang sudah melekat erat pada masyarakatnya.
Menara yang terlihat dari tengah lautan menunjukan titik nol pulau Sumatra yang dimulai didaerah yang dulu dikenal sebagai sumber Lada Hitam. Dalam perjalanan dari Bakauheni ke Tanggamus. Karena sudah lama tak pulang, ku benar-benar dibuat kagum. Disetiap toko, rumah, pusat perbelanjaan terdapat hiasan Siger diatas pintunya. Benar-benar simbol yang dijadikan ciri khas provinsi ini. Jadi, kalau disebut kata Siger pastilah Lampung yang dituju. Seperti Jakarta dengan Monasnya, pada level internasional seperti New York dengan patung Liberty, Paris menara Eiffel. Dalam perjalanan tak hentinya ku memandangi bangunan-bangunan itu. Hingga rasa lelahku selama perjalanan membuatku terlelap dalam kekaguman.
***
Rumah sangat ramai. Kebun-kebun coklat dekat rumah masih terlihat berjejer rapi seperti empat tahun yang lalu saat ku tinggalkan daerahku ini, hanya ada sedikit perubahan, dimana berdiri rumah baru yang masih sangat asing bagiku. Kulihat anak-anak sudah hilir mudik ke sekolah, muda-mudi sudah mulai beraktifitas.
“Dimana kakaku?” pikirku
Beberapa saat kulihat ia sedang duduk bersama ibu di ruang tengah, ia tampak bahagia, ku pun ikut bahagia.
“Kakak akan memakai mahkota Siger itu?” tanyaku padanya.
“Iya, tentu” jawab kakak dengan yakin.
“Apa kamu ingin mencobanya?” ia balik bertanya seraya tersenyum.
“Nampaknya sangat berat, apa kakak mampu memakainya?” candaku padanya. Namun ia hanya tersenyum.
“Kami dulu sering bertengkar masalah-masalah sepele. Karena ia anak wanita satu-satunya, terkadang kumerasa iri melihat perhatian lebih padanya. Namun sekararang berbeda. Suaminyalah yang akan membimbingnya. Mungkin kuakan sulit bertemu denganya lagi. Apalagi sekembalinya aku ke kota. Bahkan mungkin tak akan berjumpa lagi” ujarku dalam hati.
Sebelum hari pernikahanya, rumah sangat ramai. Bersama masyarakat aku memasang tarub hingga ke daerah tetangga. Membabat rumput-rumput yang sudah mulai meninggi, mempersiapkan segalanya. Acara ini seperti acara mereka sendiri, sikap gotong royong yang hangat yang sudah lama tak kurasakan saat tinggal di kota. Seperti sikap masyarakat yang tercermin dalam lima kembang penghias yang bertengger pada Siger, salah satunya yakni Sakai Sambayan (senang bergotong royong dan saling membantu dengan masyarakat luas).
Dihari pernikahan, seperti adat biasanya, kakaku keluar dengan pakaian adat Lampung, ia nampak bagai seorang putri raja, berjalan anggun dengan mahkota Siger dikepalanya. Pipinya kemerah-merahan, kakaku sangat cantik. Ia tersenyum melihatku. Ia berjalan perlahan-lahan. Namun Saat kuperhatikan, nampaknya ada yang aneh.
“Mahkota Siger itu, kenapa jumlah tanduknya ada 13?” Tanyaku dalam hati.
Kuperhatikan sekali lagi dan kuhitung berulang-ulang, satu, dua, tiga, empat..... tiga belas. Bukankah seharusnya tujuh atau sembilan. Dengan angka tiga belas itu ku mulai berfikir yang aneh-aneh. Angka jelek, angka buruk, angka membawa sial.
“Ini pasti karena mataku yang sudah agak rabun” kucoba yakinkan diri.
Belum pernah kulihat ada mahkota Siger bertanduk 13. Sambil berfikir kucoba meyakinkan diriku. Kucoba tenang, namun masih saja pikiranku bertanya-tanya. Saat pikiranku masih kacau karena keanehan itu, mendadak suasana hening, hilang, sangat sepi, tak terdengar suara-suara kecil pun ditelingaku. Orang-orang terlihat panik, gugup. Getaran apa ini. Makin lama makin membesar. Tiba-tiba kesunyian itu pecah, suara gemuruh orang-orang dimana-mana, mereka panik. Dari kejauhan terdengar suara yang kian detik terdengar makin jelas. Lindu....lindu...ada lindu... semua orang makin panik, lari tunggang-langgang. Getaran semakin kuat, kucoba tetap berdiri. Gempa ini makin besar, entah berapa skala richter. Tanah seolah naik turun menggoyak isi perutku, sudah tak jelas pandangan ini karena semua sudah bergoyang tak tentu, bangunan-bangunan pun nampaknya ikut bergerak tak tentu. Seperti berada di lautan dengan ombak yang besar, kami semua terombang-ambing. Tarub- tarub yang telah kami pasang semuanya rubuh, panggung pernikahan berantakan. Kepalaku makin pusing. Semua orang berlarian tak tentu mencari tempat berlindung, Semua orang berfikir menyelamatkan diri mereka masing-masing. Gempa ini makin besar, dimana kakak, dimana keluargaku. Semuanya mulai tak tampak, puluhan orang berlarian disekitarku serta berteriak-teriak ketakutan. Sesaat kemudian suasana kembali sunyi, banguanan-bangunan tinggal puing-puing, sudah rata dengan tanah. Semua gelap.
***
Saat semua menjadi terang. Kusadar sudah dimana kuberada, tempat yang sangat ramai, mulai dari laki-laki, wanita, anak-anak serta wanita-wanita sepuh berkumpul dalam satu tempat. Tenggorokanku terasa kering. Lemas sekali rasanya tubuh ini. Kulihat sekelilingku semuanya rata, orang-orang meratapi apa yang sudah terjadi. Semuanya berantakan.
“Lalu dimana kakak, ibu dan ayahku. Dimana keluargaku? Ku bertanya pada diri sendiri.
Segera kucari mereka. Kuperiksa satu persatu barak-barak pengungsian yang penuh dan sumpek itu. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Setelah beberapa saat mencari, dari kejauhan nampak seperti benda yang membuat pikiranku ingat sesaat sebelum gempa itu datang. Itu... mahkota siger kakaku. Ku yakin itu. Segera ku menghampirinya dan berharap keluargaku berada disana. Iya, ini mahkota Siger kakaku, bertanduk 13, jumlah angka yang membuatku merinding. Kenapa mahkota ini bertanduk 13. kumenoleh ke kanan dan kekiri mencari keluargaku dengan mahkota masih ditangan. Seorang petugas yang melihatku mendekat dan bertanya.
“Maaf apa yang sedang abang cari, adakah yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu menawarkan bantuan.
“Oh, iya, dimana benda ini ditemukan. Aku mencari keluargaku, kakaku yang memiliki mahkota ini”. Ujarku dengan penuh harapan bahwa mereka masih hidup dan bisa berjumpa denganku.
“Kalau begitu abang ikut saya” ajak sang petugas.
Petugas itu berjalan sangat cepat, aku pun ingin menyusulnya. Kami melewati beberapa barak yang tadi belum sempat kudatangi.
“Innalillahi wa inna ilai raji’un,” aku kaget.
Setelah melalui beberapa barak-barak itu, kumelihat ada satu barak yang penuh dengan mayat-mayat korban gempa. Rasa ketir dihatiku mulai muncul. Begitu banyak korban, tak kuasa kumelihatnya. Sambil terus mencari, hatiku mulai merasa lemah. Air mataku mengalir seraya menyebut ketiga orang yang kusayangi itu. Bibirku gemetaran.
“Ya Allah jika benar diantara mayat-mayat ini ada keluargaku, sungguh tak kuasa ku berdiri tegak menahan berat tubuhku. Air mata ini pun mungkin akan menguras muaranya hingga kering habis” ujarku dalam hati.
Dengan rasa sendu dan tangis kecil, kumulai menyusuri satu persatu mayat tersebut. Ketika melihat wajahnya dalam hati kuberharap bukan keluargaku, bukan keluargaku. Hingga akhir, tak kudapati keluargaku terbujur lemas diantara tubuh-tubuh tak berdaya itu. Hatiku merasa lega namun masih timbul kecemasan karena aku belum menemukan mereka.
“Salah seorang petugas mengatakan bahwa mahkota itu berada ditangan salah satu mayat saat benda itu temukan” petugas itu berkata dengan mengelus pundakku mencoba memberikan dorongan untuk bersabar.
“Apa petugas disini memiliki daftar nama-nama korban yang selamat ataupun meninggal Pak?” dengan masih berbalut kesedihan kubertanya.
“Mari ikut saya” ajak petugas itu lagi.
Ia berjalan lagi dengan cepat, namun kali ini aku tak bisa mengimbangi jalanya. Kuberjalan lurus dengan kepala menoleh kekiri dan kanan melihat semua kehancuran yang disebabkan beberapa menit gempa dahsyat itu. Sesampainya di post jaga. Kumulai memeriksa nama-nama korban yang meninggal satu persatu. Ku mulai dari daftar itu dan berharap tidak ada daftar nama keluargaku baik ibu, ayah dan kakak perempuanku. Dari lembar pertama kubalik, kedua ketiga hingga lembar terakhir. Total korban tewas mencapai lebih dari 80 orang. Setelah yakin memeriksa daftar tersebut. Kuberalih ke daftar korban selamat. Dengan penuh antusias kuperiksa detail sekali, satu nama bisa kueja berkali-kali. Lembar pertama, lembar kedua, pada lembar ketiga, dibaris ke 13 ada nama Lestari.
“Ini nama kakaku. Iya ini nama kakaku. Alhamdulillah” ucapku keras
Kucari lagi nama kedua orang tuaku. Lembar demi lembar namun tak ada.
“Kenapa tidak ada” ujar ku berbisik.
Kembali kuperiksa lembar ke tiga, baris ke 13, Lestari.....
“Iya ini nama kakaku,” Tapi,.. dari desa Pejulungan sedangkan desaku Waydalam. Kembali ku berlinang air mata. Apa-apaan ini. Kenapa nama mereka sama, ingin sekali kuganti nama desa Pejulungan itu dengan nama desaku, lalu kurobek-robek kerta itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Kembali kududuk tersungkur ke tanah. Tak habis pikir, nama ketiga orang yang kusayangi tidak ada baik didaftar kematian maupun orang selamat. Aku hanya terdiam. Sesaat ku bangkit dan bertanya lagi.
“Apakah ada buku daftar lain Pak?”
“Ini ada buku daftar nama warga yang belum ditemukan hingga saat ini?” ujar sang petugas
Kuambil buku itu, mataku lembab dengan air mata yang sedari tadi mengalir. Kubuka hanya ada satu lembar. Ada tiga orang yang belum ditemukan. Tertulis nama, Ujang Ahmad, Murnia dan Lestari ketiganya dari desa Waydalam. Mataku yang sudah lembab membengkak. Kembali melinangkan air mata. Mereka belum ditemukan, keluargaku menghilang.
***
Hari demi hari. Kumasih setia di pengungsian. Menanti petugas menemukan keluargaku yang hilang. Aku tak tahu nasib mereka karena menghilang dan tak ada kabarnya sama sekali. Aku hanya percaya dan yakin mereka masih hidup. Hari ke tujuh setelah gempa. Suasana pengungsian sudah tak seheboh kali pertama. Nampakanya mereka sudah mulai beraktifitas meski masih sebagai pengungsi, mencari puing-puing tersisa, menanti bantuan pemerintah, dan mengharap kemurahan hati orang lain. Anak-anak bermain di sekitar situ, berlari-lari. Mereka tak sekolah karena bangunan sekolah pun ikut rata dengan tanah. Keesokan harinya kuikut bersama petugas berjalan-jalan melihat puing-puing rumah yang runtuh. Kuputuskan untuk pergi kedesaku, melihat kondisi rumah, tarub-tarub dan pangung kebahagiaan yang pastinya porak-poranda. Sementara ini tak ada angkot yang beroprasi. Menuju ke rumah memerlukan waktu dua jam dengna berjalan kaki karena barak pengungsian berada di daerah kota. Selama perjalanan hanya puing-puing yang kulihat, sesekali ada beberapa warga yang mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. Sesampainya didesaku. Suasana sepi. Hanya beberapa orang saja yang tampak. Rumahku hancur, tarub, kayu-kayu panggung itu masih berada disana belum dibereskan. Semua nampak sangat luas tak ada yang menghalangi pandanganku. Kucoba duduk beberapa saat di atas puing-puing rumahku. Kutarik nafas panjang.
“Dimana keluargaku, selamatkanlah mereka, pertemukanlah kami” air mata itu kembali menetes. Tak ada yang tersisa. Hanya puing-puing. Malam itu kuputuskan untuk bermalam disana. Angin dingin berhembus menjalar tubuh kurusku. Malam ini gelap sekali hanya sinar rembulan yang masih bersinar. Entah ia tersenyum atau ikut sedih bersamaku. Malam itu, hanya doa yang selalu kulantunkan. Harapan, keyakinan bahwa mereka masih hidup dan kami akan bertemu lagi. Kubaringkan tubuhku yang disenari rembulan. Mulutku tak henti berdoa, hatiku terus berharap dan percaya namun mataku pun tak henti-hentinya mencucurkan air mata. Mataku sembab basah. Beberapa saat, ada suara seseorang yang membangunkanku, ia menyentuhku, mengerakan tubuhku. Karena tangis, mataku menjadi lengket dan sulit untuk kubuka.
Seseorang berucap, “Hey,.... kenapa matamu, kamu tidur sambil menangis”.
Ku kenal suara itu.. itu suara kak Lestari. Allah mengabulkan doaku. Kukucek mataku agar bisa melihatnya. Benar ini kakaku, kak Lestari. Ia selamat, apakah ini hanya mimpi.
“Kakak selamat” teriaku kegirangan.
Semua orang melihatku heran. Kuterus berteriak, bersyukur,
“Ya Allah terimakasih, Engkau selamatkan kakaku”.
“Hey, Yan, kamu ini kenapa?” tanya kakak bingung.
Ku tersenyum melihat wajahnya. Namun beberapa saat kemudian, kulihat sekelilingku, ada ibu, ayah dan para tetangga melihatku keheranan. Sekarang aku yang heran ada apa ini. Ini desaku, rumahku, kakak, ibu, ayah dan para tetangga serta ini mahkota siger betanduk sembilan bukan tiga belas. Kuberlari keluar. Kulihat sekelilingku semuanya kembali seperti semula. Kumasih heran. Keluargaku ikut keluar dan merasa heran dengan tingkahku.
Dengan tersenyum kuberteriak, “Terimakasih ya Allah”.
Aku benar-benar tak tahu apakah tragedi gempa itu hanya mimpi ataukah saat ini aku sedang bermimpi dan semuanya saat ini hanyalah mimpi. Entahlah, yang pasti, kubersyukur karena saat ini kuberkumpul dengan keluargaku. Kulihat lagi mahkota Siger kakakku ini, kuyakin tanduknya ada sembilan bukan tiga belas.
By : Septian S
BIODATA
Nama : Septian Saputro
Alamat asal : Kuripan, Kotaagung, Tanggamus, Lampung
Alamat sekarang : Jl. Ambarukmo. RT 01 RW 02. No. 107 Condongcatur Yogyakarta.
No Handphone :
NIK : 1806012409900001
Alamat Facebook : ianseptian12
Alamat Twitter : @septiansaputro
ianseptian12@yahoo.co.id
Cerpen : Harapan sang lilin kecil
kalau nulis aja mungkin mudah tapi hasilnya belum tentu baik. semua orang bisa menulis tapi ngak semua orang bisa menulis dengan baik. ada baiknya mengikuti saran ini kalau pengen nulis "kalau mau nulis-nulis aja jang dipikir dulu" ini baik buat kita biar gak terlalu pusing mau nulis apa yang dipikir baru nanti hasil tulisanya. namun baiknya jika dibuat kerangka biar tulisanya gk lari ngalor ngidul.
so friend... nulis itu kebiasaan. Harus banyak prakteknya selain itu juga harus banyak baca.
jadi yuk kita sama-sama belajar menuangkan pikiran bukan hanya dengan celotehan tapi dengan tlisan.
HARAPAN SANG LILIN KECIL
Tok.. tok.. tok tok tok … inilah suara ketukan pintu yang setiap harinya ku dengar pukul 03.00 dini hari, ketukan lemah lembut dari jari-jari mungil seorang anak wanita, adikku yang tiga hari lagi akan menginjak usia delapan tahun. Nadia Salwa Nisa, suaranya yang agak serak basah ditengah campuran suara guyuran hujan membuat suaranya makin sayu melembut, gadis mungil belahan hatiku, bidadari dan malaikatku, satu-satunya wanita yang ku miliki setelah dua tahun lalu keluargaku menghilang. Kami tinggal bersama bu Yanti, pembantu orang tua kami yang masih mau setia menemani kami. Hingga saat ini tidak sekelumit informasi pun ku dapatkan mengenai keluargaku, hingga putus asaku mencarinya. Lebih-lebih lemahnya hatiku juga membuat cibiran orang-orang itu makin menciutkan hati. Namun berbeda dengan Nadia, ia hanya bersandar dengan keluarga tidak kurang dari enam tahun, keyakinanya yang tak wajar bagiku selalu memacuku untuk terus optimis dan tersenyum. Terkadang ku berfikir di umur yang akan menginjak delapan tahun ini, ia bisa bersikap dewasa jauh melebihi diriku. Tok…tok..tok.”.Kak.”.sapa Nadia membangunkanku lagi, sekejap ku tersadar dari lamunan persekian detik tadi, ku lihat jarum jam sudah akan mengunjungi angka tiga tepat. Seperti biasa saya harus bangun, ucapku dalam hati. “Iya Nadia..” selaku seraya melangkah kearah pintu, ku buka perlahan, tampak wajah penuh keceriaan berseri-seri memancar, rautnya yang manis menambah semangtku, kemudian ku kecup keninganya seraya berkata “Kakak akan ambil wudhu dulu, Nadia tunggu diruang shalat ya”. “Iya kak” jawab Nadia sembari tersenyum.
Setelah shalat tahajud kami berdoa, seperti biasa Nadia yang memimpin, ketulusan hatinya membuatku seolah-olah bisa menentukan takdir bahwa nantinya ia akan menjadi panutan. Amin... seru Nadia. Tanpa sadar ia telah usai berdoa, kali ini ku melewatkan doa bersamanya dalam lamunan. Ku tarik ia kepangkuanku, kupeluk erat sekali seakan kami akan berpisah jauh.. beberapa detik hening menyelimuti kami.
Kak,, “suara Nadia terlontar. “Ia Nadia”. ku jawab perlahan. Nadia melanjutkan “Kita akan berjupa ayah dan ibu”. Ku peluk ia makin erat. “Nadia janji” tambah Nadia meyakinkanku. Mendengar kata-kata itu tak tahan ku bendung tangis ini, ku peluk erat Nadia, ku sapu linangan air matanya yang sedari tadi mengalir tersendat-sendat, makin erat pelukanku, semakin erat. Senduku lapisi dengan senyum lantas ku berkata “Iya Nadia benar, kita akan bertemu ayah dan ibu, ditempat yang indah dimana ada Nadia-Nadia mungil lain dan kak Diana lain”. “Tidak kak” sangah Nadia. “Mereka akan menghampiri kakak dirumah ini, mereka akan membawa seorang anak laki-laki sementara Nadia akan menemui ayah dan ibu”. Ku turut dalam tangisan bersama Nadia, kata-kata itu menyelinap masuk ke hatiku menyentuh muara yang terselubung kerinduan akan ayah dan ibu.
***
Pukul tujuh kurang lima belas menit, setelah berpamitan dengan bu Yanti yang sedang berada di dapur, ku antar Nadia ke sekolah dasar, tidak jauh dari tempat kami tinggal hanya 100 M. Nadia dikenal oleh guru-guru, sebagai anak yang cerdas, pemberani, santun dan bersemangat, mereka menilai Nadia lebih dewasa dari teman-temannya. Satu bulan yang lalu, saat diadakan lomba pidato dengan tema; Orang Tua, Anak dan Masa Depan, secara mendadak ia diminta menggantikan Rudi teman sekelasnya yang tiba-tiba sakit saat akan berlomba. Tanpa pikir panjang dan persiapan apapun, ia mengangguk lantas berkata., “Iya, dan saya bisa bu”.. yang membuat para guru takjub yakni ia mampu berpidato dengan semangat membara tanpa terputus-putus, seakan-akan piawai berpidato seperti bapak Soekarno, Bung Hata, Bu Kartini, ia berkata-kata seindah mutiaranya Imam Gahazali dan Imam syafi’i. Diujung pidatonya ditengah ribuan mata menyaksikan, ia berdiri tegak agak condong ke kanan, tangan kanannya menggenggam dan tangan yang lain ia dekapkan di dada kanan, dengan semangat ia berucap “ Teman-teman, hidup optimis, hidup yang punya masa depan, pesimis akan suramkan hal-hal bahagia yang ada dihadapan kita”. “Untuk teman-teman yang masih berbalut kehangatan kasih sayang papa-mama” suara Nadia makin meredup. Seketika Nadia memandang sekelilinganya, ia memandang langit dan berkata dalam hati “Tuhan, tak lama saya merasa hangat pelukan mama, kasih sayangnya saat ini ingin ku persembahkan untuk kakakku tercinta, kak Diana. Tetesan air mata Nadia, mulai mengalir menemani akhir pidatonya.. ia masih memandang langit, matanya terus berlinang air mata. Penonton terbawa hanyut kesedihan Nadia, mereka ikut menangis, dari kejauhan dipojok kursi belakang ku saksikan sendiri adik kecilku, andai ayah dan ibu ada, mereka akan bangga.
****
Pagi hari sedikit cerah, bayangan pepohonan tak tampak karena matahari dipunggungi awan. Rumah sepi, namun tiba-tiba Nadia berteiak..”Kak Diana……” ia berlari, berteriak-teriak. Kekanak-kanaknya tampak. “Ada apa Nadia..?” “doa Nadia akan segera terkabul kak ?. “Doa “?? Dahi ku mengerut bingung. Nadia hanya tersenyum, ia berlari mendekatiku dan mencium pipi kananku, sebelum ku berucap ia langsung pergi ke kamarnya lagi. “Ada apa Diana?” Tanya bu Yanti heran. “Tidak bu, itu Nadia tampaknya bahagia sekali, doanya kan terkabul, doa yang mana ya bu?”.. “Entahlah” jawab bu Yanti. “Apapun doa Nadia, ibu rasa itu hal yang baik buat dia dan kamu”. “Nadia bisa memahami keadaan dan ingin merubahnya, ia calon wanita yang hebat, dan tegar Din” Bu Yanti melanjutkan, “Kamu juga harus bahagia Din, bukankah keluarga Rio akan datang melamarmu malam ini”, senggol bu Yanti agak genit. Aku hanya tersenyum dan berkata : “Iya bu…”
Jantungku berdebar kencang, darah cepat melaju mengitari tubuhku, namun tanganku terasa dingin kaku. Ku ambil segelas air putih, ku teguk. Ku bahagia karena malam ini akan ada yang melamarku. Nadia sejak tadi mengamatiku, ia tercengang melihat kakanya yang modar-mandir mengambil air minum. “Kak Diana, duduk sini..” ia mengulurkan tanganya mengajakku duduk. “Tenang kak.” mutiaraku berucap. Ia merangkulku. “Kakak akan hidup bahagia dengan kak Rio” Bisik kecil Nadia. “Nadia akan ikut kakak” kataku pada Nadia. “Tinggal bersama kakak dan kak Rio”. “Tidak kak” sanggah Nadia. “Nadia tidak ingin merepotkan dan menjadi beban kakak, Nadia punya tujuan, cita-cita tinggi, Nadia ingin menjadi seorang yang bisa memberi kehangatan kepada orang lain. Nadia ingin jadi lilin meskipun terang redup tapi ia masih bisa menerangi sekitarnya, kakak kuat, Nadia pun kuat, kita wanita kuat kak”. “Nadia…” keluh ku. “Kamu satu-satunya keluarga yang kakak punya, haruskah kita berpisah?, kakak tak sanggup Nadia”. Nadia melepas pelukanya dariku ia menggenggam tanganku kemuadian berkata “Nadia akan selalu bersama kakak, meskipun tidak dalam satu tempat kak. Jiwa Nadia selalu ada jika kakak menyadarinya”. Perbincangan kakak dan adik tersebut berlangsung lama hingga keluraga Rio datang, proses lamaran berjalan lancar, dan langsung menentukan tanggal pernikahan.
***
Dua hari lagi halalku, debar-debar ini tidak hanya karena aku akan memiliki pendamping hidup tetapi juga karena akan berpisah dengan adikku yang tak ingin tinggal bersama. Untuk beberapa saat aku akan sering mengunjunginya. Hari H (hari pernikahan) berjalan lancar. Sehari, dua hari, tiga hari dan berhari-hari ku selalu mengunjungi Nadia tiap sore.
21 April 2012, sore hari tak seperti biasanya, rumah sepi. Nadia tak tampak, bu Yanti juga tak tampak. “Kemana mereka?” pikirku resah. Diluar ada suara mobil menderum dan berhenti didepan rumah, Rio suamiku kembali, ia tergesa-gesa masuk kerumah hingga lupa mengucapkan salam. Dengan terengah-engah ia berkata “Dek... kita kerumah sakit Mitra sekarang, Nadia dirawat”. Sontak ku kaget, wajahku memucat pasi, tanganku gemetar tak karuan, kedua kakiku rasanya tak kuat menopang hingga ku seperti akan jatuh. Suamiku menuntunku masuk kedalam mobil. Kami meluncur cepat ke rumah sakit Mitra, dengan rasa cemas, ku berlinangan air mata, mengucur deras.
Rumah sakit Mitra tak seramai pasar malam dengan kegembiraan, banyak isak tangis dipojok ruangan yang beberapa tulisanya sudah hilang (KA AR M YAT) . Namun hal itu tidak menafikan kegembiraan sekelumit orang yang bersyukur karena keluarganya sudah bisa dibawa pulang. Didepan ruangan khusus yang saya tak tahu namanya, bu Yanti tampak duduk sendiri, kami langsung menemuinya. Dari luar kamar ku bisa melihat Nadia berbaring. Ku masuk dan menemuinya, Nadia tampak sehat, tak terbalut perban, tak ada luka ditubuhnya, tak ada tanda-tanda ia harus berbaring di ranjang besi, ia diselimut kain hitam putih memanjang. Nadia tersenyum. Ku bertanya dan memegang tanganya “Kenapa Nadia bisa berada disini?” Ia tak menjawab pertanyaan ku, justru kata-kata yang keluar dari dua bibir tipisnya adalah “Ini jalan menuju terkabulnya doaku kak, doa yang sudah hampir dua tahun ini kita lantunkan, dalam selubung kain putih bertali diatas hamparan sajadah”. Nadia melanjutkan “Ibu ayah sudah datang kerumah dengan seorang anak laki-laki, Nadia juga akan menjemput ibu dan ayah. Kita akan hidup bahagia kak, meskipun tidak dekat, jiwa Nadia akan ada bersama kakak. Nadia sayang kakak..”.. Semua terdiam, Nadia juga terdiam senyap, keharuan masuk dalam ruangan ukuran 4 X 5 M itu. Literan air mata mungkin sudah ku keluarkan, hingga rasanya kering tak kumiliki lagi. Namun malam itu semua tersapu suasana haru, untuk terakhir kalinya ku peluk erat tubuh adik ku, air mataku mengalir kembali, air mata yang berasal dari sumberku yang terdalam yang menjadi saksi perpisahan kami.
Ku sudah bertemu dengan ayah ibu yang menjadi orang tuaku, dan anak-lakinya menjadi suamiku, Nadia pergi, menjemput ayah dan ibu... “Tidak” ! ia tidak pergi. Semangatnya, cita-citanya, tekadnya, pikiranya, dan senyumannya selalu ada mendampingiku.
Setahun kemudian seorang anak wanita hadir kedunia, ia merupakan pencerah, lilin baruku. Ku namai ia Nadia Putri Diana anak ku jiwa adik ku.
Wednesday, March 6, 2013
SEJARAH PROSA IMAGINATIF (NOVEL) ARAB; DARI KLASIK HINGGA KONTEMPORER
www.jurnallingua.com
SEJARAH PROSA IMAGINATIF (NOVEL) ARAB; DARI KLASIK HINGGA KONTEMPORER
Sukron Kamil
Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
e-mail: < sukronk@yahoo.com>
Abstract
Though the tradition of classic Arab was not prose, the Arabic fiction prose has developed since the end of Umayya Dinasty. The factors contributing to this development are the Qur’an that contains many stories and translation of fiction from Persian. Started from folklore and then translation, the Arabic fiction developed rapidly, followed by the publishing of short novels. Furthermore, there was a kind of fiction called maqamat. The Arabic fiction developed in the classic period in the East of Arab was romantic fiction, while at the West part of Arab the development of classical fiction was marked by the works of romantic fictions by Ibn Al-Syahid and philosophical romantic fiction by Ibn Thufail. In modern era Arabic fiction was characterized with the translated works of Al Thanthawi. Then it was developed further by Al-Manfaluthi, a poet of classic and romantic. Novel Zainab by Husein Haikal indicated the birth of modern novels, followed by Taufik Hakim. Thaha Husein also developed Arabic fiction works that are still read nowadays. However, through Najib Mahfudz’s various works ranging from historical romantic, realist, and philosophical symbolic, the Arabic fiction claimed the world’s acknowledgement. The most recent trend of Arabic fiction is that the metaphysical and inter-textual novels come into light.
Keywords
Arabic Fiction Prose, History, Tradition of Classic Arab
Pendahuluan
Belakangan ini, publik sastra di Indonesia kebanjiran buku-buku seperti kumpulan cerpen atau novel terjemahan Arab. Hampir semua karya Jibran Khalil Jibran (di Indonesia umumnya ditulis Khalil Gibran) telah diterjemahkan. Demikian juga dengan karya-karya semisal karya Al-Manfaluthi, Najib Mahfudz, Nawal As-Sa’dawi, Taufiq Hakim, Mahmud Taimur, dan Najib Al-Kailani. Kurang sesuai, jika karya-karya para sastrawan Arab dalam bentuk terjemahan berkembang di publik pembaca Indonesia, sementara ilmunya yang mendudukannya secara metodologis (kerangka keilmuan) tidak atau kurang berkembang. Setidaknya hal itu jika dilihat dari buku-buku yang terbit.
Demi memperkaya literatur sastra Arab yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan memberikan kerangka pemahaman kepada para peminat karya-karya sastra Arab, tulisan ini dibuat. Tentu saja ini hanya upaya awal yang jauh dari sempurna. Yang paling real, tulisan ini untuk memperkenalkan profil global dan sepintas kilas prosa sastra Arab kepada publik dan untuk kepentingan proses perkuliahan yang bisa memudahkan mahasiswa dalam mengkaji sastra Arab. Diharapkan juga agar tulisan ini menjadi entry point bagi peminat atau pengkaji sastra Arab untuk kemudian dilanjutkan lewat sumber rujukan utama yang ditulis dalam bahasa Arab. Paling tidak, sebagai sandingan bagi buku-buku atau artikel sastra Arab yang telah ditulis dalam bahasa Indonesia oleh para penulis lain sebelumnya.
Pengertian Prosa Sastra
Dalam banyak literatur sastra Arab, orasi, pribahasa, surat-surat kenegaraan dan pribadi (terutama surat-surat masa klasik), pribahasa, dan kata-kata mutiara (hikmah) memang dikategorikan sebagai prosa sastra. Bahkan, dalam tradisi sastra Arab, tauqi’at juga termasuk di dalamnya. Yang dimaksud tauqi’aat adalah tulisan indah dan ringkas yang berisi komentar yang ditulis seorang khalifah atau gubernur di bawah buku-buku atau surat-surat yang diberikan kepadanya (semacam disposisi). Tentu saja hal ini bisa dipahami, karena antara lain tradisinya yang agak berbeda jika dibandingkan dengan tradisi sastra di Indonesia. Dalam sastra Arab, beberapa hal yang tadi disebut memang memiliki kandungan sastra yang tinggi. Beberapa orasi semisal orasi dari Qus bin Sai’dah mirip dengan puisi pendek yang bersajak.
Namun, yang dimaksud prosa sastra dalam tulisan ini seperti terlihat dalam judul hanya prosa sastra imaginatif, yaitu fiksi atau cerita rekaan yang bobot khayalinya lebih besar daripada prosa sastra non imaginatif. Dalam literatur sastra Arab, prosa imaginatif dikenal dengan prosa kreatif (al-natsr al-insya’i). Sedangkan prosa sastra non imaginatif disebut al-adab atau an-natsr al-washfi (sastra/prosa sastra deskriptif) atau al-‘ulum al-adabiyah (ilmu sastra). Al-Adab Al-Washfi ini terdiri dari 3 bagian, yaitu: sejarah sastra (tarikh adab), kritik sastra (naqd al-adab), dan teori sastra (nadzariyah al-adab).
Dalam literatur sastra Indonesia, yang termasuk kategori sastra non imaginatif adalah esay (tulisan pendek tentang suatu fakta yang dikupas secara akrab menurut pandangan pribadi penulisnya); biografi, baik ditulis oleh tokohnya sendiri (otobiografi) atau ditulis orang lain (biografi); memoar (otobiografi yang membatasi diri pada sepenggal pengalaman tokohnya); sejarah; catatan harian; dan surat-surat.
Lebih jelasnya, jenis prosa sastra non imaginatif atau fiksi yang maksud dalam tulisan ini -sebagaimana diakui dalam teori sastra, baik dalam sastra Arab modern maupun Indonesia- adalah empat atau lima genre prosa sastra, yakni novel (qishshah) dan roman (riwayah), cerita pendek (qishshah qashirah), novelet (uqsusiyah), dan drama (masrahiyyah). Keempat atau kelima genre tersebut sebenarnya memiliki unsur-unsur fiksi yang sama, hanya takaran unsur-unsurnya berbeda dan tujuan penulisannya pun berbeda.
Namun, disini juga akan dimuat prosa sastra yang dikenal pada masa klasik, tetapi tidak berkembang di dunia Arab kontemporer, yaitu maqamat. Yang dimaksud maqamat adalah semacam cerita pendek yang lahir pada masa Abbasyiah (7501258 M) yang mengisahkan seorang atau kelompok tertentu, disampaikan seorang penutur (dalam bentuk cerita berbingkai), menggunakan gaya bahasa yang unik, khususnya saja’ pendek (kesesuaian akhir kata dalam kalimat-kalimatnya yang pendek), dan berisi nasihat atau kritik yang diselingi hal-hal lucu (Sumardjo, 1997:16, Al-Faisal, 1405:26).
Sekilas Sejarah Sastra Arab Periode Klasik (Abad ke-7-13 M)
Sejarah sastra Arab agak berbeda dengan Barat dan India. Tradisi fiksi dalam kesusastraan awal di Barat dan India cukup kuat. Hal itu bisa dibuktikan dengan karya Homeros, Illias dan Odysee yang menceritakan peperangan dengan latar kota Troya, salah satu kota di Ukraina, dan kepulangan tokoh Odiseus ke Yunani setelah perang usai. Epos ini ditulis oleh Homeros pada periode Yunani kuno (850 SM) dalam bentuk puisi. Demikian juga dengan dramanya. Yunani kuno telah mengenal tiga dramawan: Aeskilos (525-426 SM), Sophokles (496-406SM), dan Euriples (484-406 SM). Di Indonesia, bahkan karya Sophokles telah diterjemahkan, antara lain Antigone, Oidipus Sang Raja, dan Oidipous di Kolonus. Hal yang sama terjadi di India. Epos Ramayana dan Mahabharata menunjukan asumsi ini. Epos Ramayana yang ditulis oleh Valmiki dan Mahabharata yang ditulis Vyasa adalah cerita fiksi India kuno yang mencerminkan idealisme bangsa Aria (Fang, 1991:51, Mahayana, 2005:347).
Dalam sejarah Arab, fiksi yang menyebar di kalangan masyarakat Arab periode pra dan awal Islam hanya berbentuk folklor. Kesadaran orang Arab terhadap fiksi dalam bentuk tulisan agaknya baru muncul setelah dipengaruhi kisah yang terdapat dalam al-Qur’an dan khazanah peradaban yang dikenalnya lewat penerjemahan naskah asing pada periode Abbasyiah. Tradisi sastra dalam sejarah Arab awal adalah tradisi puisi. Di antara folklor Arab awal Islam yang sampai kepada kita adalah folklor Laila Majnun.
Karena berbentuk folklor, maka cerita Laila Majnun dalam bentuk tertulis pun ada banyak versinya dan Thaha Husein meragukan keberadaannya. Ia menganggap kisah tersebut tidak masuk akal dan berlebihan. Dari berbagai versi tertulis yang ada, versi klasik yang terkenal dan pertama adalah versi yang ditulis oleh Nidzami Ganjawi (1141-1209 M), seorang sastrawan yang berasal dari Azerbaijan. Dalam versi Nidzami itu dikisahkan bahwa Qais bin Mulawwah adalah seorang yang hidup pada periode Bani Umayyah yang jatuh cinta pada Laila ketika ia bertemu pertama kali di sekolah (maktab). Ia tersihir oleh kecantikan paras Laila yang bertubuh langsing dan berambut hitam bergelombang. Berlebihannya cinta Qais pada Laila yang ia ucapkan dalam puisi-puisinya hingga orang-orang mengira Qais seorang yang gila (majnun). Dalam salah satu puisinya, ia menyebut cinta adalah keindahan, bagai ilham dari langit yang menerobos dan bersemayam dalam jiwa. Ayah Qais kemudian mendatangi ayah Laila untuk melamar, tetapi lamarannya ditolak, karena Qais dianggap telah gila. Ia tidak mau mengawinkan anaknya dengan seorang gila. Laila yang juga mencintai Qais dengan sepenuh hati akhirnya dikawinkan dengan laki-laki lain. Agar Qais bisa melupakan Laila, ayah Qais mengajaknya untuk menunaikan ibadah haji. Namun, di depan Ka’bah, ia berdoa justru agar Tuhan tidak mencabut kedalaman cintanya pada Laila. Qais pun kemudian hidup di tengah kesunyian padang pasir. Ketika mendengar Laila meninggal, ia memeluk jenazahnya dan setelah dikubur menangis di depan nisannya hingga mati, menyusul kematian Laila (Tahun kematiannya sekitar 65-68 H) (Nidzami, 2002:101).
Dalam versi Iqbal Barakat yang agaknya ditulis kemudian (pada masa modern), diceritakan bahwa seorang bernama Qais mengagumi sepupunya bernama Laila. Ia memuji Laila setinggi langit dalam puisi-puisinya. Pada suatu waktu, Qais menghadap pamannya untuk menyunting Laila, tetapi ditolak. Adat kebiasaan orang Arab kala itu tidak membolehkan menikahkan anak perempuannya kepada seorang laki-laki yang mengaguminya dan menjadikannya objek cumbu rayu dalam puisi. Laila kemudian menikah dengan laki-laki lain dari Suku Saqif dan dibawa pergi ke Thaif. Besarnya kecintaan Qais pada Laila membuat Qais acapkali jatuh pingsan ketika nama Laila disebut. Ia juga pernah suatu kali berbicara dengan Laila, lalu ada bara api yang membakar sorban dan tubuhnya, tetapi Qais tidak merasakannya karena keterpesonaannya pada Laila. Karena itu, kepergian Laila membuat Qais hidup menyendiri di tengah padang pasir yang sunyi dan meninggal sendirian karena ilusi dan cintanya pada Laila (Barakat, 2004:7-22).
Kisah ini pada abad ke-12 masuk ke Prancis lewat sastra Islam di Spanyol dan melahirkan kisah Floire et Blanchefleur. Ada kemungkinan, karena dipengaruhi cerita Laila dan Qais (Majnun) itulah, Shakespeare menulis Romeo and Juliet (Hadi, 2004:345).
Penulisan fiksi selanjutnya berkembang pada masa Abbasyiah (750-1258 M). Pada abad ke-8 (tahun 750 M), Ibn al-Muqaffa menerjemahkan Kalilah wa Dimnah, fabel India dari bahasa Suryani dan menambahkan tambahan cerita pokok dan sisipan. Karya ini sangat berbeda dengan teks asli yang ditulis Baidaba pada pertengahan abad IV SM dalam bahasa Sansekerta, terutama dalam gagasan, cara penyajian, dan keluasan pesan moral yang dikandungnya. Teks asli fabel ini terdiri dari 7 bagian. Di India sendiri karya asli itu tidak ditemukan. Yang ada hanya 5 bagian saja yang disebut Pancatantra yang sampai ke Indonesia pada masa berkembangnya Agama Hindu. Hal ini karena teks aslinya dicuri dan diam-diam diterjemahkan ke dalam Bahasa Pahlevi atas perintah Anusyirwan pada abad ke-6 M. Tokoh utama dalam novel ini adalah seekor srigala bernama Dimnah yang cerdik dalam melakukan intrik-intrik politik. Dia berhasil memutuskan persahabatan antara Singa dan Lembu Syatrabah melalui fitnah. Katanya, dibalik keakraban Syatrabah, ia mempunyai ambisi politik yang berbahaya. Dikatakan Dimnah, bahwa Syatrabah tengah merancang makar. Karena kepandaian Dimnah dalam berkata-kata, Singa pun percaya. Kepada lembu Syatrabah yang baik hati, Dimnah berkata lain. Singa, katanya sebenarnya membenci syatrabah dan ingin membunuhnya. Lembu itu terhasut dan menyiapkan perlawanan, tetapi malang, rencananya itu tercium oleh Singa, karena diberitahu Dimnah. Lembu Syatrabah itu lalu dihukum mati. Singa selanjutnya merasa kesepian dan menyesali perbuatannya, ketika mengenang kebaikan hati temannya, Lembu Syatrabah. Akhirnya fitnah Dimnah diketahui Singa dan tanpa ampun, Dimnah dihukum mati. Dalam Kalilah wa Dimnah ini juga diceritakan mengenai siasat burung gagak yang berpura-pura mengabdi pada burung hantu, tetapi hanya untuk mengetahui kelemahan burung hantu. Baidaba juga menceritakan cara memperoleh kekuasaan lewat persahaban/perdamaian, penghimpunan dana, memecah belah musuh dan kemudian memeranginya tanpa menunda waktu. Tampaknya, berdasarkan cerita inilah Machiavelli dalam Il Principe-nya mengatakan bahwa seorang politisi sejati adalah seorang yang memiliki moral ganda: bermoral malaikat dan srigala sekaligus. Kecuali itu, sebagian besar karya Lapontaine, penyair Prancis pada abad ke-18 didasarkan pada Kalilah wa Dimnah (Al-Muqaffa’, 1987:60, Hadi, 2000:216-223).
Pada abad ke-9 M, dalam sejarah prosa fiksi Arab lahirlah Kitab al-Bukhala (Kisah Orang-Orang Kikir) dari Abu ‘Amr ‘Usman al-Jahiz (253 H/868 M), sebuah buku yang hampir mirip dengan kumpulan cerpen realis. Kisah ini selama berabad-abad tetap hidup dan menurut Thaha Husein merupakan karya klasik terbaik. Karya anekdot ini berisi mengenai tokoh penguasa dan hakim, hingga orang kikir, para pemitnah, realitas masa dan tempat-tempat tertentu yang pernah ditinggali al-Jahiz. Sebagian tokoh-tokoh al-Bukhala adalah tokoh nyata dan terkenal yang hidup pada masanya dan dikenal kikir. Misalnya Sahal bin Harun dan al-Kindi. al-Jahiz dalam karyanya ini bukan saja menjelaskan kekikiran tokoh, melainkan juga filosofi kekikirannya yang saat itu banyak dianut oleh sebagian teolog dan filosuf. al-Jahiz dalam karyanya ini juga mengungkapkan upaya tokoh yang diceritakannya dalam penginvestasian kekayaan. Sebab itu, ia bisa disebut sebagai sastrawan realis pertama dalam sejarah sastra Arab. Dengan bahasa yang menawan, al-Jahiz juga menulis Kitab al-Hayawan (Buku tentang Binatang) yang menjelaskan struktur biologis hewan dan cerita fabel, seperti kisah anjing dan ayam, burung merpati dan lalat, burung hud-hud dan biawak, dan lain-lain (Al-Jahidz, tt:309, Khafaji, tt:195, Ar-Rabi’, 1410:114, Esposito, tt:154, Husein, 2004:66), yang agaknya dipengaruhi Kalilah wa Dimnah.
Pada abad berikutnya (ke-10), cerita berbingkai (cerbing) Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam) lahir dan menjadi cerita fenomenal. Karya abadi ini merupakan kumpulan novelet atau novel pendek yang jumlah halaman kisah-kisah utamanya yang terkenal di atas 30 halaman (ukuran maksimal halaman sebuah cerpen, sebagaimana dikatakan Mahmud Dzihni) (Shalih, 1813:818, Hadawi, 2000:190). Dalam cerbing tersebut, antara satu kisah dengan kisah lainnya saling berkaitan. Isinya mengenai hewan (fabel), percintaan, cerita rakyat dan lainnya. Sumbernya dari berbagai kultur: India Persia, Mesir, Yunani dan Arab. Namun telah disesuaikan dengan kehidupan dan adat istiadat umum masyarakat Arab kala itu. Cerita yang dimuatnya melibatkan tokoh terkemuka waktu itu, ulama, rakyat biasa, dan raja termasuk Harun ar-Rasyid. Aslinya, cerbing ini dari India lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan kemudian oleh al-Hazar Afsan atau al-Jasyiyari (w. 942) diterjemahkan dari bahasa Persia ke dalam bahasa Arab. Ia dan juga penyusun berikutnya menambahkan beberapa cerita (folklor) yang berkembang di Bagdad, terutama cerita lucu dan percintaan dari istana Harun ar-Rasyid yang mewah. Menurut Philip K. Hitti, bentuk utuh dari cerita berbingkai ini kemungkinan terjadi pada abad ke-14 dan Silvestre de Sacy meyakini bahwa penulisnya bukan satu orang. Husein Hadawi menjelaskan bahwa cerbing Alf Lailah wa Lailah ditulis dalam suatu bentuk tertentu pada paruh kedua abad ke-13 pada masa Pemerintahan Mamluk. Antonio Galland kemudian menerjemahkannya ke dalam Bahasa Prancis pada tahun 1704-1717 M. Dalam edisi Inggris, paling tidak ada dua, hasil terjemahan William Lane ((1801-1876) dan Richard Burton (1821-1890). Terjemahan Burton The Thousand Night and a Night dalam 16 jilid adalah terjemahan Inggris yang paling terkenal. Cerbing ini kemudian lebih dikenal di Barat daripada di Timur. Menurut HAR. Gibb, pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20, Alf Lailah wa Lailah mengalami cetak ulang sebanyak 300 kali dalam banyak bahasa Eropa. Kenyataan ini membuat Alf Lailah wa Lailah mempengaruhi karya sastra semisal Faust I dan Faust II karya Gothe yang memuat adegan penerbangan Faust dan Mephistopeles. Karya Gothe ini mengingatkan kita pada cerita Aladin dan Lampu Ajaib dalam Alf Lailah wa Lailah. Beberapa sastrawan Arab, seperti Thaha Husein dan Taufiq Hakim menjadikan Alf Lailah wa Lailah sebagai bingkai untuk diisi dengan wawasan mereka sendiri. Cara ini juga diikuti Najib Mahfuz dengan menulis Layali Alf Lailah (Mahfudz, 2002:1)
Cerita berbingkai yang berisi novel-novel pendek ini memuat sekitar 30 cerita. Tokohnya adalah Syahrayar dan Syahzaman, dua orang raja adil yang dikhianati oleh istrinya yang berselingkuh dengan seorang budak hitam. Syahrayar berpandangan bahwa tidak ada perempuan yang bisa dipercaya. Kemudian ia memutuskan untuk mengawini seorang gadis setiap malamnya dan setelah digauli, pada pagi harinya, gadis itu dihukum mati oleh algojonya. Tujuannya agar tidak berkhianat, seperti istri pertamanya. Situasi ini berlangsung selama tiga tahun. Karenanya menimbulkan kehebohan. Banyak dari para gadis kala itu melarikan diri ke negeri lain. Ketika wazirnya tidak lagi menemukan gadis yang bisa dinikahinya, ia menyerahkan anaknya sendiri, Syahrazad. Untuk menyelamatkan kedudukan ayahnya dan gadis-gadis lain, Syahrazad pun tidak keberatan. Akan tetapi, sebelum dinikahi raja, ia telah membaca banyak buku sastra, ilmu lainnya, dan mempelajari banyak sejarah serta biografi tokoh-tokoh terdahulu. Ia meminta bantuan Dunyazad, adiknya, agar mengajukan permohonan izin kepada Syahrayar, Sang Raja agar kakaknya bisa menyampaikan sebuah kisah kepadanya pada malam hari. Syarat yang diajukan adiknya dikabulkan raja. Pada malam pertama, Syahrazad bercerita dan Raja ikut menyimak. Hingga pagi tiba, suatu kisah belum selesai dan harus dilanjutkan pada malam berikutnya. Mendengar ceritanya yang menarik, Raja memutuskan untuk tidak membunuh Syahrazad, hingga ia menyelesaikan ceritanya pada malam ke 1001. Raja kemudian mempunyai anak dari Syahrazad, dan kembali menjadi raja adil dan hidup tentram. Salah satu yang disampaikan Syahrazad adalah Cerita Aladin dan Lampu ajaib, Sinbad Sang Pelaut, Ali Baba dan Qomaruzzaman. Menurut Rusydi Shalih, Syahrayar adalah simbol pencari ilmu dan Syahrazad adalah simbol ilmu dan akal (Glasses, 1990:358, Al-Husaini, tt:7, Hitti, tt:150, Hadi, 2000:363).
Cerita anekdot al-Jahiz di atas kemudian dikembangkan pada periode berikutnya (abad ke-11-12) dalam bentuk maqamat. Secara bahasa, maqamat berarti majlis pertemuan kabilah, kelompok yang bertemu dan isi pembicaraan atau ceramahnya. Namun kemudian, maqamat secara bahasa berarti gambaran suatu sessi di mana sejumlah orang berbicara tentang subjek tertentu dengan cara salah seorang dari mereka menuturkan sebuah kisah, lalu yang lain mengomentarinya. Dari makna itulah, maqamat menjadi salah satu jenis sastra Arab berupa beberapa cerita pendek yang membahas satu peristiwa yang diceritakan oleh seorang pencerita yang terjadi pada individu atau kelompok sosial. Salah satu ciri yang menonjol dalam maqamat adalah gaya bahasanya indah, di mana saja’ pendek sangat dominan. Secara isi, maqamat berisi kritik individual atau sosial dan juga diselingi hal-hal lucu.
Jenis maqamat ini diciptakan oleh Badi’ al-Zaman al-Hamadzani (w. 398 H/1119 M), meskipun menurut pendapat lain, ia bukan pencipta pertama, karena pencipta yang sesunguhnya adalah Abu Bakar bin Duraid dan Ibn Faris. Al-Hamaz|ani telah menulis sekitar 400 maqamat. Hanya saja, yang dikenal orang hanya 51 atau 53 maqamat saja. Tokoh fiksi dalam maqamat-maqamat-nya ini adalah Abu al-Fath al-Iskandari, sedangkan periwayat fiksinya adalah Isa bin Hisyam. Isinya mengenai petulangan Abu al-Fath al-Iskandari, siasat, dan perpindahanya dari satu tempat ke tempat lain. Maqamat-nya ini penuh dengan cerita, puisi-puisi, gambaran dan kritiknya pada masyarakat semasanya. Badi’ az-Zaman al-Hamadzani menamai mayoritas maqamat-nya ini dengan nama tempat, seperti Maqamat Kufah, Maqamat Bashrah, Baghdad, Syria, ‘Iraq, Bulkh, Sajistan, Azerbaijan, Jurjan, Ahwaz, Syiraz, dan Naisabur.
Kelebihan maqamat-nya terletak pada keindahan ungkapan kata, kemudahan, kelembutan saja’, kemampuan improvisasi penulisnya, modelnya dalam bentuk cerita pendek -mendekati model cerpen masa kini- sehingga tidak membuat pembaca cepat bosan. Selain itu, kelebihan maqamat Badi’ az-Zaman al-Hamadzani ini adalah isinya tentang deskripsi dan kritik sosial pada masanya, serta metode jalan cerita kejutan yang tidak diduga sebelumnya oleh pembaca. Misalnya, suatu kali Abu al-Fath al-Iskandari memimpin salat untuk menolak musibah dan ia melamakan ruku’ dan sujudnya. Pada salah satu sujud, ia meninggalkan jamaahnya yang dibiarkan sujud tanpa diimaminya. Meski kekurangan buku ini antara lain dominannya unsur permainan kata, tapi menurut Syauqi Dhaif, buku ini baik untuk pengajaran bahasa dan sastra (Al-Hamid, 1962:66, Al-Hasyimi, tt:87).
Jenis maqamat al-Hamadzani di atas dikembangkan oleh al-Hariri (w 516 H) yang menulis 50 maqamat dengan tokoh utama Abu Zaid as-Saruji. Maqamat al-Hariri dengan tokoh pencerita al-Haris bin Hamam ini agaknya disenangi masyarakat pada masanya. Menurut penuturan Yaqut dalam Mu’ajam al-Udaba (Kamus tentang Para Sastrawan), pada tahun al-Hariri menyelesaikan maqamat-nya, ia menandatangani 700 salinannya. Tokoh utama maqamat al-Hariri adalah tokoh nyata yang hidup di masanya yang dalam kepribadiannya terhimpun kepribadian baik dan buruk. Ia adalah seorang ahli bahasa dan sastra, seorang pemurah yang tulus, dan luas ilmunya, tetapi arogan dan lemah. al-Hariri dalam maqamat-nya ini mengkritik keburukan masyarakat yang hidup pada masanya, antara lain keengganannya dalam berderma. Meskipun memuat banyak hal, termasuk persoalan kegamaan, fiqh, dan hal-hal lucu, tetapi tampaknya maqamat ini dimaksudkan al-Hariri sebagai buku untuk pengajaran bahasa dan sastra daripada yang lainnya. Menurut Purstall, Maqamat al-Hariri adalah karya sastra yang sangat mempengaruhi penulis Eropa setelah diterjemahkan kedalam Bahasa Spanyol menjadi picaro. Picaro yang terkenal adalah Et Cavarello Cifar dan Ribaldo.
Pada masa modern, di dunia Arab, jenis maqamat ini masih tetap disenangi. Hal ini bisa dilihat dari karya Muhammad al-Muwallihi (w. 1930) yang menulis Maqamat Hadis Isa bin Hisyam (Cerita Isa bin Hisyam) tahun 1908, Hafizh Ibrahim (w. 1932) yang menulis Maqamat Layali Satih (Malam-Malam Panjang) tahun 1906, dan Muhammad Luthfi Jum’ah yang menulis Maqamat Layali al-Ruh al-Ha’ir (Malam-Malam Jiwa yang Gundah) tahun 1912 (Al-Faruqi, 1998:383).
Pada abad ke-11, Abu al-‘Ala al-Ma’arri (w. 449/1058) menulis Risalah al-Gufran (Risalah Pengampunan). Lewat tokoh utama novel ini, Ibn al-Qarih, al-Ma’ari menjelaskan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan surga dan neraka serta para penyair penghuni keduanya. Novel ini dijadikannya sebagai media untuk mengkritik masyarakatnya yang secara keagamaan sudah buruk. Meskipun begitu, novel Risalah al-Gufran lebih sebagai buku kritik sastra yang memuat ikhtisar sastra penting sebelumnya, terutama periode Jahiliyah. Dia mengungkap sekitar 800 sya’ir dan mengkonfirmasi serta mendialogkan kebenaran diksi, gramatika, dan lainnya dengan tokoh sastrawan sebelumnya yang sudah menjadi penghuni surga dan neraka. Data yang dipakainya adalah data yang berkembang dan menjadi diskursus pada masa itu, karena telah terhimpun dalam kumpulan puisi (diwan). Misalnya Diwan Hamasah-nya Abu Tamam (w 232/847 M) yang terdiri dari 4 jilid dan Diwan al-Buhturi (284/899 M) yang lebih panjang. Ia bertemu dengan Zuhair bin Abi Sulma yang masuk surga walaupun hidup pada masa Jahiliyah karena keimanannya kepada Allah dan Muhammad, meski wafat sebelum kerasulan; Hasan bin Sabit karena sya’ir pujiannya kepada Nabi; Umru al-Qais, ‘Antarah, dan Tharafah yang masuk Neraka. Kritik sosial keagamaannya dalam Risalah al-Gufran ini dilanjutkan secara lebih tajam lagi dalam kumpulan puisinya, al-Luzumiyyat. Dalam Luzumiyat-nya, al-Ma’ari antara lain menyesali perbedaan fiqh antar pendukung Syafi’i dan Hanafi, sikap keagamaan yang tidak rasional, mengkritk masjid-masjid yang menurutnya sama dengan tempat pelacuran. Hal ini karena para pemimpin agama dan pengikutnya di dalam masjid itu tidak memiliki niat yang baik, terperangkap oleh formalisme, berhenti pada simbol, dan penghayatan keagamaannya yang kurang. Ia bahkan menyebut bahwa agama pada masanya telah dijual dan menjadi barang dagangan yang tak laku. Yang dimaksudnya telah dijual adalah bahwa pemuka agama pada masanya telah mengeksploitasi orang awam untuk kepentingan pribadi. Agaknya, karena kritik pedasnya itu, ia terkadang dianggap meragukan agama, bahkan sebagian menyebutnya zindiq (mengacaukan agama) (Muja’sh, 1999:9).
Di dunia Arab bagian barat, Andalusia (Maroko, Portugal, dan Spanyol), sejarah sastra Arab juga mencatat kelahiran dua novel: Novel at-Tawabi’ wa az-Zawabi’ (Jin-Jin Penyair dan Rajanya) karya Ibn Syahid (382-426 H) dan Novel Hayy ibn Yaqdzan fi Asrar al-Hikmah al-Masyriqiyyah, karya Ibn Tufail (506 H/1110 M-581 H/1185 M), seorang filosuf Illuminatif atau isyraqiyyah (Muthahhari, tt:29). Novel at-Tawabi’ wa az-Zawabi’ adalah novel yang mengisahkan perjalanan imaginatif penulisnya di alam jin. Dikisahkan bahwa ia ditemani seorang jin bernama Zuhair bin Namir, bertemu dengan para penyair dari kalangan jin yang menjadi pengikut penyair dan prosais ternama Arab dari kalangan manusia seperti Umru al-Qais, Tharafah, Abu Tamam, al-Mutanabbi, al-Jahidz dan al-Hamadzani. Ia juga bertemu kritikus sastra dari kalangan jin. Terjadilah debat kesusastraan yang dimenangkan Ibn Syahid. Lewat novel yang menggunakan banyak gaya bahasa saja’ ini, ia meminta penyair dari kalangan jin untuk membacakan puisi-puisi dari penyair ternama Arab, lalu ia melengkapi dan mengkritiknya. Para penyair dari kalangan jin itu kemudian mengagumi kemampuan sastra dan kritik Ibn Syahid. Ia juga melakukan kritik terhadap para sastrawan yang tidak mengakui bobot sastranya, terutama Abu Bakr Ibn Hazm. Menurut Gunaimi Hilal, walaupun novel ini lebih dahulu lahir dari Risalah al-Gufran karya al-Ma’ari, tetapi jika dibandingkan, novel yang disebut pertama lebih buruk dan tidak sekaya dan sedalam yang kedua (Hilal, tt:222, Dhaif, 1980:79).
Novel Hayy ibn Yaqdzan Ibn THufail mengisahkan bahwa di salah suatu kepulauan India, lahir bayi laki-laki yang kemudian dikenal dengan Hayy. Kelahirannya ada dua versi: versi pertama mengatakan, Hay lahir dari perut bumi dan versi lainnya menyebut ia terdampar di sebuah pulau karena dihanyutkan ibunya, seorang putri bangsawan yang hamil dari hubungannya dengan Yaqdzan yang tidak disetujui kakaknya yang menjadi raja. Di pulau itu, seekor rusa yang kehilangan anaknya mengasuh dan menyusuinya. Makin lama Hayy semakin besar. Ia mulai berfikir, memperhatikan, mengamati dan merenungkan keadaan sekitarnya. Ia dikarunia Tuhan kecerdasan yang luar biasa. Ia menemukan api, membuat berbagai alat, perkakas, dan senjata. Ia mampu mengetahui anatomi tubuh binatang lewat penelitiannya dengan cara membedah tubuh ibunya (rusa) karena penasaran ingin mengetahu penyebab yang mengakibatkannya tidak bisa bergerak sama sekali lagi (mati). Ia bahkan mampu mengetahui hakikat di balik alam (metafisik), sanggup mengetahui adanya ruh, dan lebih dari itu ia sampai mengenal Hakikat Tertinggi (Tuhan). Ia dapat memperoleh semua itu lewat jalan akal atau filsafat. Jalan itu pula yang mendorong dan memudahkannya untuk mencapai kemanunggalan yang seerat-eratnya dengan Tuhan (ekstase/ittihad) melalui cahaya filosofis (tasawuf). Caranya, ia masuk ke dalam goa, berpuasa dan berusaha sekuat-kuatnya untuk memisahkan akal pikiran dari dunia luar dan dari badannya sendiri dengan jalan merenung memikirkan zat Tuhan. Mulanya ia gagal, namun akhirnya ia berhasil. Setelah mencapai tingkat tertinggi dalam pencarian spiritualnya, ia bertemu dengan seorang yang saleh (sufi) bernama Asal untuk memencilkan diri (‘uzlah). Lewat dialog-dialog di antara keduanya, tampak bahwa di satu sisi, Asal merasa jalan filosofis itu memperkuat keyakinannya dan di sisi lain, Hayy pun dengan mudah menerima keterangan wahyu dari Asal. Namun, ada satu hal yang tidak diketahuinya lewat perenungan, yaitu ritual-ritual agama seperti salat. Karena itu, Hayy belajar cara beribadah kepada Asal (Ibn Thufail, 1997:13, Al-Ahwani, 1988:79).
Walaupun secara umum, isi dan plotnya orsinil, tetapi novel Hayy bin Yaqdzan di atas tidak seluruhnya benar-benar baru. Ketajaman puitisnya bukanlah milik pribadi Ibn THufail sendiri. Sebelumnya, Ibn Sina, lewat jalan cerita yang berbeda telah menulis kisah mistis-alegoris dalam judul yang sama, Hayy bin Yaqdzan, dan juga kisah Salaman wa Absal (Salaman dan Absal). Bahkan, sebelum Ibn Sina, sudah ada cerita kuno Yunani yang tersebar luas di Andalusia waktu itu, yaitu “Berhala, Raja, dan Putrinya” yang jalan ceritanya mirip (Shiddiqi, 1966:180).
Namun demikian, pengaruh Ibn THufail pada sastra sesudahnya, baik Arab maupun Barat, cukup kuat. Cerita Tarzan karya Jonathan Swift yang sering muncul di film dan televisi dewasa ini misalnya, diyakini banyak pengamat dipengaruhi oleh novel Hayy bin Yaqdzan. Novel Hayy bin Yaqdzan juga telah mempengaruhi syaikh al-isyraq (guru besar Illuminasi), As-Suhrawardi (w. 1183) dalam menulis novel al-Garibah al-Garibah. Demikian pula penulis Spanyol Baltazar Gracius yang menulis novel El Criticon yang mengkritik tradisi masanya, Rudyard Kipling yang menulis Jungle Books, dan Daniel Defoe yang menulis Robinson Cruso. Hal ini bisa dipahami, karena novel Ibn Thufail itu telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Yaitu, ke dalam behasa Ibrani tahun 1341, ke dalam bahasa Latin oleh Edward Pocock 1671, Belanda 1672, Prancis 1936, dan Rusia 1920. Sebab itu, Philip K. Hitti menilai novel Hay bin Yaqzhan sebagai salah satu cerita yang terindah dan paling orsinil di abad pertengahan. Bahkan, Muhammad Gunaimi Hilal, melihat bahwa novel tersebut adalah novel besar yang alur ceritanya matang serta memuaskan. Bahkan, James Kritzchek mengatakan bahwa Hayy bin Yaqzan adalah karya masterpiece Islam (Shiddiqi, 1966:193, Hilal, tt:224, Hitti, tt:181).
Sekilas Sejarah Sastra Arab Periode Pertengahan dan Modern (Pasca Abad 12-Sekarang)
Pasca abad ke-12, meskipun sastra Persia dan Turki berkembang di tangan Dinasti Safawi (1501-1736 M), Mughal (1526-1258 M), dan Turki Usmani (1300-1924 M) (Yatim, 1997:129), tetapi sebagaimana puisinya, fiksi Arab mengalami kemandekan. Dalam abad pertengahan Islam ini tidak ada karya fiksi Arab yang menonjol (Ar-Rabi, 1410:153) sampai munculnya sastrawan-sastrawan pembaharu pada periode modern.
Pada periode modern, prosa fiksi Arab ditandai dengan persentuhan dunia Arab dengan terjemahan prosa sastra Barat. Salah satunya adalah Mawaqi’ Aflaq fi Waqai’ Tilmak (Tempat terjadinya alam dalam cerita Tilmak), hasil terjemahan bebas at-Thahthawi. Dalam terjemahannya, ia masih menggunakan gaya bahasa saja’ dan tidak terikat bahasa sumber (Dhaif, 1980:207-209).
Sebagaimana yang terjadi pada masa klasik, pada pasca terjemahan lahirlah prosa fiksi dari para prosais pembaharu. Yang menonjol diantaranya adalah Muhammad al-Muwallihi (w. 1930) yang penulis Maqamat Hadis Isa bin Hisyam (Cerita Isa bin Hisyam) pada tahun 1908 yang telah disinggung di atas. Dalam Hadis Isa bin Hisyam, al-Muwallihi mengungkapkan cerita dengan tokoh pencerita Isa bin Hisyam sebagaimana tokoh dalam Maqamat al-Hamadzani, tetapi tokoh utama yang diceritakan adalah Ahmad Basya al-Manikili. Isa pergi ke kuburan untuk mengambil pelajaran, tetapi seorang yang bernama al-Manikili dari seorang keturunan Turki keluar dari kuburnya. Ia bersama al-Manikili kemudian pergi antara lain ke pos polisi, gedung parlemen, dan pengadilan. Dari sana, ia mulai menceritakan kehidupan sosial modern di Mesir seperti pedagang dan petaninya dan ia juga mengkritiknya. Salah satunya, ia terheran-heran dengan pengadilan yang memihak pada pelaku kejahatan. Dengan tokoh utamanya dari al-Manikili, seolah al-Muwallihi menceritakan realitas Mesir kepada penguasa Mesir yang berkebangsaan Turki yang berkuasa saat itu, Dinasti Muhammad Ali, lewat orang Turki sendiri. Plot al-Muwallihi itu mengingatkan kita pada makna awal maqamat, yaitu pertemuan dengan roh orang yang sudah mati (Esposito, tt:154, As-Sa’dawi, 1982:53).
Selain al-Muwallihi, yang juga melakukan perubahan dalam sastra Arab pada periode modern awal adalah al-Manfaluthi (1876-1924). Ia mengembangkan novel dan cerpen bercorak romantis. Mayoritas karya sastranya sendiri berbentuk cerpen dan esai sosial. Hal ini antara lain terdapat dalam sebagian dari an-Nadzarat (Berbagai Tinjauan) yang merupakan magnum opus-nya, al-‘Abarat (Berbagai Air Mata), dan Mukhtarat al-Manfaluthi (Kapita Selekta al-Manfaluthi). Dalam bentuk novel, ia telah berperan menyadur karya-karya Barat dengan bahasa sendiri yang menggunakan gaya penulisan klasik, khususnya bayan. Novel sadurannya itu adalah: al-Fadhilah (keutaman) saduran dari Paul et Virginie karya Bernardin de Saint Pierre; al-Sya’ir (Sang Penyair) saduran dari Cyrano de Bergerac karya Edmond Rostan; Fi Sabil at-Taj (Demi Mahkota), dan Majdulin yang disadur dari Magdalena karya Alfouns Kar. Tiga yang terakhir dari saduran al-Manfaluti ini dan juga al-‘Abarat-nya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Karya-karya al-Manfaluthi itu dinilai sebagai karya yang mempertemukan gaya bahasa Arab asli yang mampu mengungkapkan keluh kesah masyarakat Mesir. Karena itu, karyanya mendapat perhatian banyak pembaca. Menurut Fathi Ridhwan, pada masa setelah perang Dunia I, hampir setiap rumah di Mesir memiliki salah satu dari karya al-Manfaluti. Meskipun demikian, al-Mazini melihat karyanya sebagai sastra yang kurang berisi dan lemah, yang menyuarakan kecengengan, kelemahan jiwa, dan kemiskinan hati (Al-Qa’ud, 1986:78, Al-Zayyat, tt:117, Ahmad, 1983:138).
Dalam salah satu cerpen yang terdapat dalam an-Nadzarat-nya, “Yaum al-Hisab”, misalnya, al-Manfaluthi menggambarkannya lewat tokoh Aku yang tiba-tiba mengalami hari kiamat dan peristiwa berkumpulnya semua orang dan perhitungan amal. Lalu ia menyaksikan perdebatan yang cenderung saling menyalahkan antara dua tokoh pembaharu Islam berkebangsaan Mesir yang mengguncang, Muhammad Abduh dan Qasim Amin. Perdebatan itu diakhiri dengan ucapan Abduh yang mengutip Hadis Nabi Muhammad, “Sesunguhnya semua perbuatan tergantung pada niatnya”. Ia tampaknya lewat cerpen ini ingin mengkritik pembaharuan Islam tanpa diiringi penguatan dasar-dasar agama yang melahirkan masyarakat yang bersikap longgar dari agama, bahkan permisif.
Dalam al-Majdulin, al-Manfaluthi mengungkapkan hubungan percintaan antara Steven, seorang tukang kebun yang mencintai Majdulin dari keluarga Mr Muller, tempat ia bekerja. Ayah Majdulin tidak merestui hubungan mereka dan membawa pindah Majdulin dari kediaman pertamanya. Akibatnya, Majdulin terbawa arus kehidupan malam, hingga akhirnya meninggal dunia. Sementara itu, Steven juga menderita dan berakhir dengan kematian pula.
Namun, novel Arab yang paling diakui kritikus Barat sebagai novel Arab modern pertama karena kecenderungan realisnya (McGlynn, 1998:100) adalah novel Zainab dari Husein Haikal (1888-1956), seorang yang juga dikenal sebagai wartawan dan pemikir terkemuka. Novel ini terbit tahun 1913. Selain itu, novel yang cukup berpengaruh adalah novel Sarah, sebuah novel semi autobiografi dari Abbas Mahmud al-‘Aqqad (1889-1973).
Dalam Novel Zainab, Haikal mengisahkan tokoh Zainab, seorang putri petani cantik di sebuah pedesaan Mesir yang mencintai Ibrahim, ketua pekerja, dan Hamid, pemuda kaya dan terpelajar. Akan tetapi, Zainab kawin dengan Hasan, laki-laki yang tidak dicintainya. Demikian juga dengan Hamid yang mencintai Zainab dan Azizah, tetapi tidak berhasil mempersunting salah satu dari keduanya, karena perbedaan status sosial ekonomi dan tradisi. Zainab dalam novel itu digambarkan seorang yang tinggal di desa, tetapi berafiliasi dengan kultur Barat. Haikal dalam novel ini berhasil menggambarkan realitas pedesaan Mesir dan semangat revolusi 1919 untuk kemerdekaan Mesir di bawah Sa’ad Zaglul (Al-Basathi, 1982:70, Salam, tt:115).
Pada tahun 1932, di Mesir kemudian terbit novel ‘Audah ar-Ruh karya Taufiq Hakim. Antara tahun 1932-1938, dari tangannya lahir beberapa karya sastra realis dokumenter. Selain ‘Audah ar-Ruh, juga ‘Ushfur min as-Syarq (Burung Pipit dari Timur) dan Yaumiyyat Naib fi al-Aryaf (Hari-Hari Sang Pemimpin Desa). Setelah tahun 1938, novel yang lahir dari tangannnya cukup banyak, paling tidak ada 12. Antara lain Lailah az-Zafaf (Malam Pengantin) yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Navila. Dari tangannya juga lahir beberapa cerpen semisal Arani Allah (Allah Memperlihatkan Dzat-Nya kepadaku), dan beberapa drama semisal Ashhab al-Kahfi (Para Penghuni Gua). Sebagian karyanya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Perancis. Dalam ‘Audah ar-Ruh, novel pertamanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, ia mengisahkan 3 pemuda Mesir: Muhsin, ‘Abduh, dan Salim, yang pergi ke Kairo untuk belajar. Ketiganya sama-sama jatuh cinta pada Suniyyah, tetapi kemudian ketiganya disibukan oleh revolusi untuk kemerdekaan Mesir. Novel itu dinilai sebagai novel pertama Mesir yang memuat persoalan politik modern Mesir secara jelas. Kendati gerakan revolusi yang menuntut kemerdekaan kalah oleh pendudukan Inggris, tetapi katanya, ruh (semangat) perjuangan Mesir tidak akan mati dan akan hidup kembali pada suatu ketika di tangan pemimpin Mesir yang tulus. Ruh perjuangan bangsa Mesir akan lahir sebagaimana Izis mengalahkan tirani yang zalim (Abdullah, 2005:304, Al-‘Aqiqi, 1976:71, Hakim, 2003:65).
Di tangan Mahmud Taimur (lahir 1894), prosa sastra Arab berkembang lebih jauh. Ia telah menghasilkan 21 Cerpen antara lain as-Syeikh Jum’ah, 9 buah novel, 5 drama, dan beberapa tulisan tentang kritik sastra. Di antara novelnya itu adalah Kleobatra fi Khan Khalili (Kleopatra di Khan Khalili) yang terbit 1944, Syumrukh (Setangkai Anggur) yang terbit 1958, dan Ila al-Liqa Ayyuha al-Hubb (Selamat Tinggal, Wahai Cinta) yang terbit tahun 1959. Karya-karyanya telah diterjemahkan kedalam 11 bahasa, selain Arab. Antara lain Perancis, Inggris, Jerman, dan Ibrani. Novel Kleobatra fi Khan Khalili yang ditulis dalam suasana Perang Dunia II itu mengisahkan konferensi damai yang digelar di Khan Khalili, salah satu kawasan lama Kairo, tidak jauh dari Masjid al-Azhar. Dalam konferensi tersebut, dengan bantuan ahli roh, Kleopatra dan Timur Leng dihadirkan dengan menjelma sebagai seorang yang paling gigih menganjurkan perdamaian. Namun, dalam perjalanan waktu, keduanya berubah menjadi sosok yang kejam dan ambisius, sebagaimana ketika mereka hidup. Tampaknya, Taimur ingin mengkritik para pemimpin Mesir yang awalnya baik, tetapi setelah berkuasa mabuk kekuasaan dan melupakan rakyat (Salam, tt:191, Dhaif, 1980:305, Taimur, 1952:122).
Selain itu, salah satu karya sastra abad kedua puluh yang masih terus digemari di dunia Arab, bahkan hingga kini adalah autobiografi Thaha Husain (w. 1973), al-Ayyam. Taha Husein adalah seorang sastrawan, sarjana, penulis Mesir dan tokoh modernisasi terkemuka di dunia Arab yang melahirkan beberapa karya. Antara lain Syajarah al-Bu’s (Pohon Penderitaan), karya realis sebuah keluarga. Daya pikat al-Ayyam-nya adalah seorang anak tuna netra Mesir berhasil mengatasi hambatan sosial dan pendidikannya, hingga diangkat menjadi guru besar di sebuah universitas modern di Kairo. Dia belajar ke Perancis dan kembali ke negeri asalnya, Mesir, dengan menyandang gelar Doktor dan membawa seorang istri berkebangsaan Perancis. Cacat penglihatannya dan perbedaan budaya antara tradisi dan kemodernan, Timur dan Barat, yang dialaminya memperkuat unsur dramatis karya tersebut. Bukan kebetulan, jika anak-anak sekolah, sejak dari Suriah hingga Sudan, dari Arab Saudi hingga Afrika Utara, masih membaca karya ini (Husein, 2004:122).
Di tangan Najib Mahfudz, prosa sastra terutama novel, menjadi sastra yang diakui dunia. Ia berhasil mendapatkan hadiah Nobel pada tahun 1988. Awalnya ia menulis novel romantis historis dengan latar periode Fira’un. Contoh novelnya yang termasuk kategori ini adalah Kifah Thibah (Perjuangan Thebe) yang diterbitkan pada tahun 1944. Selanjutnya, ia beralih pada jenis novel realis sosial. Diantara novel jenis ini yang membuatnya terkenal adalah novel Tsulatsiyah/Trilogi-nya. Yaitu Baina al-Qashrain [Di Antara Dua Istana, Nama Jalan], Qashr asy-Syauq [Istana Kerinduan, Nama Jalan], dan as-Sukkariyah [Mangkuk Gula, Nama Kampung]) yang terbit tahun 1956 dan 1957. Terakhir ia memilih bentuk novel simbolis filosofis semisal Aulad Haratina (Anak-nak Kampung Kami) yang terbit pada tahun 1959. Novel yang disebut terakhir ini membuat Mahfudz dianggap telah menghina Allah dan para Nabinya oleh Syeikh al-Azhar kala itu. Sebagian besar karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Baina al-Qashrain, bagian pertama dari Tsulatsiyah (Trilogi)-nya, adalah nama jalan di Kairo di mana keluarga ‘Abd al-Jawwad, tokoh utama novel ini tinggal. Novel ini menceritakan keluarga borjuis pedagang kecil yang masih memegang tradisi dengan latar waktu antara tahun 1917-1919. ‘Abd al-Jawwad adalah seorang bapak yang bertanggungjawab dan sangat taat dalam menunaikan salat. Namun, ia adalah seorang otoriter, individual, dan bengis. Bahkan, ia juga memiliki karakter yang tidak diketahui oleh anggota keluarganya, yaitu senang menenggak minuman keras, menyukai musik, dan kesenangan dunia lainnya. Istrinya adalah wanita tradisonal yang tunduk pada suami dan tidak keluar rumah kecuali seizin suaminya. Anak pertama dari istri pertamanya, Yasin Syahwani, mewarisi sikap ayahnya yang suka mengumbar nafsu yang buruk. Khadijah, anak gadisnya, mewarisi sikap sang ayah yang keras kepala dan otoriter. Sedangkan Fahmi, anaknya yang lain seorang yang lembut. Sebagai seorang yang otoriter, semua jodoh anaknya ditentukan oleh ‘Abd al-Jawwad, ayahnya. Namun, lain dengan Fahmi yang berani melamar seorang gadis pilihannya sendiri yang kemudian tidak disetujui ayahnya. Berkobarnya demontarasi besar-besaran yang menuntut dibebaskanya Sa’ad Zaglul dalam revolusi tahun 1919 membawa Fahmi ikut terlibat dalam revolusi tersebut yang tidak disetujui ayahnya. Fahmi kemudian tewas sebagai syahid dalam revolusi 1919.
Qashr asy-Syauq, bagian kedua dari Tsulatsiyah (Trilogi) Mahfudz, adalah nama jalan dekat Jalan Baina al-Qashrain, tempat di mana Yasin tinggal. Novel ini menjelaskan latar waktu yang terjadi antara tahun 1924 hingga 1927. Yang diceritakan Mahfudz dalam novel ini adalah bahwa ‘Abd al-Jawwad sangat terpukul dengan kematian anaknya, Fahmi, dan memberikan sedikit ruang kebebasan bagi anak-anaknya. Dalam seri ini, Khadijah dan Aisyah, anak perempuannya, hidup bahagia bersama suamainya. Namun, keadaan Yasin belum berubah. Ia kawin dengan istri kedua, lalu cerai, dan kawin lagi dengan istri ketiga. Kamal, anaknya yang lain lulus S1 pada tahun 1924 dan menjadi tokoh utama kedua. Kamal berkawan dengan seorang anak aristokrat Mesir dari keluarga Syaddad, bernama Husein Syaddad. Kondisi kehidupan Husein Syaddad di keluarganya berbeda secara diametral dengan kehidupan di keluarga Kamal. Keluarganya sangat kaya, hidup dengan gaya Eropa yang memberikan kebebasan tanpa syarat, dan sering berdiskusi seputar seni, filsafat, sosial, dan politik. Berbeda sekali dengan Kamal, karena kemapanan ekonomi, yang dipikirkan Husein bukanlah kehidupan dan masa depannya, tetapi bagaimana ia bisa jalan-jalan ke seantero negara Eropa. Kamal kemudian jatuh cinta pada ‘Ayidah yang amat cantik, adik Husein. Namun, cintanya hanya cinta platonik, karena perbedaan status sosial dan ekonomi. Tokoh ini dalam keadaan krisis cinta dan agama, mengidolakan Sa’ad Zaglul yang wafat tahun 1927. Tampaknya, keluarga Syaddad adalah simbol dari protipe kebudayaan Eropa yang diidolakan Kamal.
As-Sukkariyah, bagian ketiga dari Tsulatsiyah (Trilogi) Mahfudz, adalah nama kampung. Dalam bagian yang menceritakan latar waktu antara 1935-1944 ini, di pertengahan novel, ayah Kamal, yaitu ‘Abd al-Jawad, meninggal dunia dan disusul kemudian oleh ibunya di akhir novel. Di bagian ini, diceritakan pula listrik dan radio masuk ke rumah lamanya, peristiwa politik dari mulai meninggalnya Raja Fuad hingga ditandatanganinya perjanjian dengan Inggris. Bagian ini juga mengisahkan 2 orang keponakan Kamal, anak dari Khadijah yang dapat menyelesaikan studi S1-nya. Yang satu bernama ‘Abd al-Mun’im dan satu lagi Ahmad Syaukat. Generasi cucu ‘Abd al- Jawad ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka mendapatkan kebebasan dalam menentukan hidup. ‘Abd al-Munim dikisahkan menjadi salah seorang anggota Ikhwan al-Muslimin dengan ideologi Islamisnya dan kawin muda untuk menjaga agamanya. Sementara Ahmad Syaukat menjadi salah satu dari angota Partai Komunis yang menolak warisan pemikiran Arab dan kepercayaan terhadap yang gaib. Ahmad Syaukat aktif dalam Partai Komunisnya dengan menyebarkan brosur dan lainnya serta menikah dengan seorang perempuan atheis. Masing-masing menganggap ideologinya sebagai jalan keluar dari kemelut Mesir modern. Keduanya kemudian ditangkap, karena kegiatan politiknya. Dalam menjelaskan dua tokoh ini, Mahfudz bersikap sebagai pengamat yang tidak jelas pemihakannya. Agaknya, hal ini dan juga faktor lain seperti dukungannnya pada perjanjian Camp David, yang membuat Mahfudz terkena cekal di negara-negara Arab konservatif seperti Saudi Arabia dan tidak disukai kalangan Islam fundamentalis.
Kamal dalam bagian ini dikisahkan sebagai seorang agamis yang tetap menjalankan salat lima waktu, tetapi tetap sebagaimana sebelumnya. Ia yang berpofesi sebagai guru Bahasa Inggris di sekolah Dasar ini masih menolak kawin karena goncangan emosi cintanya kepada ‘Ayidah, yang walaupun tak kesampaian, tetapi sulit padam. Psikologinya masih terbelah, antara warisan tradisi timur dan gelombang kebudayaan baru dari Barat. Tokoh ini mewakili kebanyakan intelektual Mesir pada tahun sekitar 1925. Goncangan yang menimpanya bukan saja perbedaan kelas sosial dan ekonomi, tetapi juga goncangan pemikiran, yang disimbolkan dengan pemikiran Darwin yang pada masa Sadat berkuasa (1971) sempat dihilangkan dari kurikulum Mesir. Setelah menerbitkan artikelnya di koran mengenai pemikiran Darwin, ilmuwan asal Inggris, bahwa manusia berasal dari kera, ia dimarahi ayahnya. Ayahnya beranggapan bahwa jika asal manusia adalah kera atau hewan lainnya, maka itu berarti Adam bukanlah bapak manusia. Ayahnya menuduh Kamal menyebarkan kekufuran dalam artikelnya. Kamal menjawabnya dengan diplomatis bahwa ia hanya menjelaskan teori Darwin dalam artikelnya, bukan mengajak orang untuk mempercayainya. Kamal pun kemudian meminta ma’af dan menyadari kekeliruannya. Ayahnya menasehati agar dirinya memperbaiki tulisannya dan menyarankan agar menulis mengenai persoalan politik saja. Sementara ibunya menasehatinya agar menulis persoalan agama saja (Goumbeih, tt:11, Mahfudz, 1983:94, Sa’id, 1981:95-122).
Sebagaimana di Barat dan belahan dunia lain, di dunia Arab modern juga lahir sastra feminis. Salah satunya adalah yang dihasilkan oleh seorang dokter dan novelis feminis Mesir, Nawal as-Sa’dawi (lahir 1931). Ia menulis lebih dari dua puluh novel, dua diantaranya difokuskan pada Islam: Suquth al-Imam (Jatuhnya Penguasa, 1987) dan Jannat wa Iblis (Surga dan Iblis, 1992). Dalam Jannat wa Iblis, ia mengisahkan semangat kaum laki-laki dalam gerakan Islam untuk memanfaatkan agama. Kecaman pedas as-Sa’dawi atas mereka yang menyalahgunakan hak istimewa religius menempatkan namanya dalam daftar hitam kelompok fundamentalis. Salah satu yang menonjol dalam karya-karyanya, baik novel maupun esai, adalah dalam keterusterangannya mengenai seksualitas dan eksploitasi perempuan oleh kaum kaum laki-laki. Dalam Imra’ah ‘Inda Nuqthah ash-Shifr (terbit 1975) misalnya, ia menceritakan tokoh perempuan bernama Firdaus, seorang anak petani cerdas yang setelah kematian ayahnya dibesarkan pamannya di Kairo. Ia kemudian dikawinkan dengan seorang yang kaya raya tetapi tua renta, kikir, dan kejam. Ia berhasil melarikan diri dari suaminya yang kejam, tetapi terlunta-lunta di jalanan. Lamarannya untuk bekerja selalu ditolak yang membuatnya kemudian menjadi pelacur, tetapi belakagangan sempat bekerja. Kekecewaannya kepada lelaki yang dicintainya karena kebobrokan dan kemunafikan, mengantarakannya kembali menjadi pelacur. Dengan menjadi pelacur, Firadus mendapatkan kemenangan atas kaum laki-laki yang diperbudak nafsu. Karena tindakannya membunuh germo, Firadus selanjutnya dijatuhi hukuman mati. Salah satu yang manarik dari novel ini adalah pernyataan-pernyataan Firdaus yang ekstrim. Diantaranya ia mengatakan: “Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan alam baka. .... dan tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak”. Di Barat dan juga di Indonesia, as-Sa’dawi mendapat perhatian tinggi, tetapi dalam kritik sastra Mesir sendiri, karya-karyanya dinilai kurang memiliki bobot sastra (Esposito, tt:157, As-Sa’dawi, 2003:x-xiii).
Feminis Arab lainnya adalah Bint al-Huda yang dikenal dengan Aminah Shadr. Ia terlibat aktif dalam gerakan pembaruan Islam di Najaf dan pada 1980, rezim Ba’s mengeksekusinya. Ia menulis beberapa novel (diantaranya Liqa’ fi al-Mustasyfa, 1970), cerita pendek, dan sajak yang mencitrakan model ideal bagi perempuan Muslim: bersikap anti Barat, berorientasi rumah tangga, menerapkan hijab (jilbab), tidak patuh buta pada laki-laki, serta boleh bekerja di ruang publik sepanjang mengikuti ketentuan Islam yang benar, bahkan dapat mengangkat senjata, jika misi Islam menghendakinya.
Di Arab Saudi yang tradisional sekalipun, sastra feminis juga lahir, yaitu dari Samirah binti al-Jazirah al-’Arabiyyah. Dalam salah satu novelnya, Qatharat min ad-Dumu’, ia menceritakan tokoh Z|ikra yang orang tuanya, Syekh Mahjub, seorang otoriter, Ia memaksa dirinya kawin dengan Amir, sepupunya, tetapi Amir menolaknya. Amir kemudian terbunuh karena diangap berselingkuh, walaupun tanpa bukti kuat dengan istrinya. Istrinya mati lewat hukum rajam (dilempar batu hingga mati). Z|ikra kemudian jatuh cinta pada ‘Ashim, seorang dokter. Namun, hubungannya tidak disetujui oleh orang tua ‘Ashim, karena perbedaan status sosial. Penolakan ayahnya membuat ‘Ashim marah dan pergi membawa sebuah mobil dengan laju kecepatan tinggi yang membawanya pada kematian. Di akhir cerita, Dzikra mengbadikan diri pada sebuah lembaga pendidikan Islam (Al-‘Arabiyah, 1979:172).
Adalah Jibran Khalil Jibran (1883-1931) yang di Indonesia dikenal dengan Kahlil Gibran, selain Najib Mahfudz, prosais Arab yang sastranya paling universal diakui Dunia. Dalam khazanah sastra Indonesia, sebagaian besar karyanya telah diterjemahkan. Prosa fiksinya mayoritas berbentuk cerpen, meski ada dari sebagiannya dalam bentuk puisi, baik puisi bebas sebagai karya domiannya maupun puisi tradisionalnya seperti al-Mawakib. Kumpulan cerpennya sebagian ditulis dalam bahasa Arab dan sebagiannya dalam bahasa Inggris. Yang ditulis dalam bahasa Arab misalnya al-Arwah al-Mutamarridah (Jiwa-Jiwa Durhaka), al-Ajnihah al-Mutakassirah (Sayap-sayap Patah), Dam’ah Wa Ibtisamah (Air Mata dan Senyuman). Dalam Bahasa Inggris antara lain al-Majnun (Yang Gila), an-Nabi (Sang Nabi), Ramal wa Zabad (Pasir dan Buih), dan Hadiqah an-Nabi (Taman Sang Nabi). Dalam cerpen-cerpennya, ia membicarakan persoalan kemasyarakatan, hukum, politik, agama, dan terutama cinta. Baginya cinta merupakan inti eksistensi manusia. Yang dimaksudnya cinta, bukan saja cinta yang penuh perasaan yang bisa diungkapkan lewat seks (eros), melainkan juga terutama cinta kemanusiaan atau spiritual (agape). Dalam salah satu cerpennya, ia mengungkapkan bahwa jagad adalah negerinya dan keluarga manusia adalah sukunya. Baginya, kecintaanya pada jagad sebagaiamana kecintaan pada negerinya dan manusia adalah saudaranya, karena sebagai sesama manusia yang tercipta dari tanah (Jibran, 1975:77, Ghougassian, 2001:44, Hasan, 2001:49-51).
Saat ini, sastra arab tampaknya sedang mengalami perubahan besar. Kisah metafiksi dan kaya intertekstualitas menyerbu prosa kontemporer, sebagaimana terjadi di Barat. Nama yang paling sering dikaitkan dengan perkembangan ini adalah dan Jamal Al-Githani (Lahir 1945). al-Githani yang menulis novel antara lain Nihayah as-Sakir (Akhir Sang Pemabuk, tahun 1959) dan sekitar 50 cerpen telah memanfaatkan warisan tekstual Arab-Islam yang kaya, termasuk teks-teks sejarah, biografis, dan mistis yang membuatnya banyak mendapatkan penghargaan sastra. Corak sastranya menuntut pembaca untuk mengaitkan dunia sastranya secara intertekstual dengan dunia para pendahulu abad klasik dan pertengahan. Kecenderungan Jamal al-Githani ini menjadi kecenderungan juga penulis Palestina yang cemerlang, Emile Habibi, dan pengarang inovatif Tunisia, al- Mis’adi.
Dilihat dari sisi orsinalitas, al-Githani yang berkecenderungan seperti itu sesungguhnya bukanlah pelopor, tetapi melanjutkan kecenderungan seniornya, yaitu Najib Mahfudz (1911-2006) dan Najib al-Kailani (1931-1995). Najib Mahfudz misalnya telah menulis novel Aulad Haratina yang telah disinggung di atas. Dengan memanfa’atkan sumber-sumber keagamaan, Mahfudz dalam novel ini telah melakukan upaya kontekstualisasi sejarah hidup para Nabi dan ajarannya dengan tuntutan kekinian. Ia juga dalam novel ini memandang bahwa yang ditekankan semua agama adalah keadilan politik dan ekonomi (Mahfudz, 1986:89). Sementara Najib al-Kailani sering dinilai pelopor fiksi Islami. Dari tangannya paling tidak telah lahir 23 novel dan 5 kumpulan cerpen. Salah satunya adalah novel ‘Azra Jakarta (Gadis Jakarta, 1974) dan kumpulan cerpen Dumu’ al-Amir (Air Mata Penguasa, 1980). Dalam Azra Jakarta, ia mengisahakan seorang tokoh komunis Aidit yang mencintai seorang gadis bernama Fatimah, putri seorang tokoh Masyumi yang menjadi pejuang Islam sebagai sebuah ideologi. Setting-nya adalah situasi politik Jakarta pada tahun 1965-an. Perbedaan ideologi membuat keduanya berseberangan baik dalam cinta maupun perjuangan politiknya. Ending novel ini adalah dihukum matinya Aidit dan kemenangan bagi Masyumi, partai yang dibela tokoh utamanya. Dalam salah satu cerpen yang ada dalam Dumu’ al-Amir, yaitu Cerpen al-Qalb al-Kabir, al-Kailani mengisahkan seorang tokoh bernama ‘Abdullah bin Mubarak. Ia membawa rombongan haji dari daerah Khurasan. Ketika hampir sampai ke Mekah, bertemu dengan dua orang anak perempuan miskin yang tidak makan selama dua hari. Uang persediannya dan juga milik rombongannya untuk haji kemudian diserahkan kepada dua anak perempuan itu, dan ia pulang, menunda hajinya untuk musim haji akan datang (Al-‘Arini, 1304:18, Al-Kailani, 1981:112, Al-Kailani, 1980:47-50).
Selain prosais di atas, prosais Arab yang cukup dikenal di luar tanah airnya adalah penulis cerpen Irak, Malik Nuri (1923), Fuad Tajerli (1927), dan Syakir Khusybak. Dari yang terakhir ini beberapa cerpennya sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Cerpen-Cerpen mereka diwarnai suasana revolusi sosialisme di Irak. Prosais lainnya yang sebagian cerpennya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Abdu as-Salam (l. 1918), cerpenis Suriah. Dari Sudan, yang agak menonjol dapat disebut nama penyair dan penulis cerpen, Thayyib Shalih. Dari Maroko, Abd al-Qadir as-Samihi termasuk pengarang yang cerpennya sering muncul dalam majalah sastra terkemuka semisal al-Adab dan al-Majallah (Esposito, tt:157, Hadi, 2004:364-367).
Penutup
Kesimpulannya, bahwa meski tradisi sastra Arab klasik bukan prosa, tetapi prosa imaginatif (prosa fiksi) Arab mulai berkembang sejak masa akhir Dinasti Umayyah (661-750). Faktor yang mempengaruhinya tampaknya adalah Qur’an sendiri yang mengandung banyak cerita dan juga penerjemahan fiksi asing dari bahasa Persia. Dengan diawali lahirnya folklor semisal Laila Majnun, lalu penerjemahan Kalilah wa Dimnah oleh Ibn al-Muqaffa, prosa fiksi Arab kemudian berkembang pesat. Kitab al-Bukhala yang berisi sejenis cerpen realis karya al-Jahidz adalah fiksi pertama yang lahir dan diikuti kemudian oleh lahirnya kumpulan novel-novel pendek Alf Lailah wa Lailah yang abadi hingga kini. Selanjutnya, muncullah jenis fiksi maqamat di tangan al-Hamz|ani dan al-Hariri. Sebagaimana Alf Lailah wa Lailah, maqamat ini ungul dengan bentuk cerita berbingkainya. Hanya saja, bedanya adalah bahwa sejenis cerpen yang dikandungnya bersifat realis, berisi kritik individual dan sosial, diselingi hal-hal lucu, dan gaya bahasanya yang penuh dengan sajak pendek. Fiksi Arab yang muncul belakangan pada masa klasik di dunia Arab bagian Timur adalah fiksi romantis Risalah al-Gufran karya al-Ma’arri. Di belahan dunia Arab bagian Barat, perkembangan sejarah fiksi klasik Arab ditandai dengan lahirnya fiksi romantis at-Tawabi’ wa az-Zawabi’ karya Ibn as-Syahid dan fiksi romantis filosofis Hayy bin Yaqdzan karya Ibn Thufail.
Setelah pada masa pertengahan mengalami kemandekan, pada masa modern fiksi Arab berkembang dengan diawali munculnya karya terjemahan dari at-Thahtawi. Sejak itu, berkembanglah fiksi Arab dengan ditandai munculnya Hadis Isa bin Hisyam karya al-Muwallihi dalam bentuk maqamat. Setelah itu, fiksi Arab berkembang lebih lanjut di tangan al-Manfaluthi, sastrawan aliran klasik dan romantis. Karyanya banyak sekali. Magnum opus-nya, an-Nazarat, berisi banyak esai dan cerpen. Ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra Barat seperti al-Majdulin. Namun, jika novel realis yang jadi ukuran, maka novel Zainab karya Husein Haikal menandai lahirnya novel yang banar-benar modern. Ia kemudian diikuti oleh sastrawan besar dan kaliber dunia seperti Taufik Hakim dengan novel seperti ‘Audah ar-Ruh-nya dan Mahmud Taimur dengan novel antara lain Kliyubatrah Fi Khan Khalili-nya dimana karya keduanya umumnya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Thaha Husein dengan antara lain al-Ayyam-nya mengembangkan fiksi Arab kemudian yang karyanya hingga kini masih dibaca. Namun, lewat Najib Mahfudz dengan berbagai ragam karyanya, dari novelnya yang bercorak romantis historis, lalu realis, hingga simbolis filosofis, fiksi Arab mendapatkan pengakuan dunia. Pada Tahun 1988, Mahfudz memperoleh hadiah Nobel. Selain Mahfudz, penulis fiksi Arab modern yang mendapatkan pengakuan dunia adalah Jibran Khalil Jibran lewat cerpen-cerpen romantisnya, Nawal as-Sa’dawi dengan novel-novel feminisnya, dan Najib al-Kailani dengan fiksi Islamnya. Kecenderungan yang paling mutakhir dari fiksi Arab belakangan ini adalah munculnya novel-novel metafisik dan intertekstualis seperti yang lahir dari tangan Jamal al-Ghithani dan Emile Habibi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad Hasan. 2005. al-Waqi’iyyah fi ar-Riwayah al-Arabiyyah, Kairo: Maktabah al-Usrah.
Ahmad, Aba ‘Aush dan al-Farabi ‘Abd al-Lathif. 1983. Al-Harakat Al-Fikriyyah Wa Al-Adabiyyah Fi Al-‘Alam Al-‘Arabi Al-Hadits, Rabath: Dar al- Tsaqafah.
Al-‘Aqiqi, Najib. 1976. Min al-Adab al-Muqaran. Kairo: Maktabah al-Anjalau.
Al-‘Arini, Abdullah Shalih. 1304 H. Al-Ittijah Al-Islami Fi A’mal Najib Al-Kailani Al-Qishashiyyah. Ttp: Mathabi’ ad-Dira’iyyah.
Al-’Arabiyyah, Samirah binti al-Jazirah. 1979. Qatharat min ad-Dumu. Beirut: Mansyrat Zuhair Ba’labaki.
Al-Ahwani, Ahmad Fuad. 1988. Falsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Al-Basathi, Mutawwalli Muhammad. 1982. Al-Qishshah fi al-Adab al-‘Arabi. Kairo: Mathba’ah as-Sa’adah.
Al-Faisal, Abd al-Aziz bin Muhammad. 1405 H. Al-Adab Al-‘Arabi Wa Tarikhuhu: Al-Ashr Al-Jahili Wa ‘Ashr Shadr Al-Islam Wa Al-‘Ashr Al-Umawi. Riyadh: Mamlakah Saudi Arabia.
Al-Faruqi, Lois Lamya. 1998. Atlas Budaya Islam, Menjelajahi Peradaban Gemilang, terj. Ilyas Hasan The Cultural Atlas of Islam. Bandung: Mizan.
Al-Hamid, Muhammad Muhiddin ‘Abd. 1962. Syarah Maqamat Badi’ al-Zaman al-Hamdzani. Kairo: Maktabah Muhammad Ali Shubh.
Al-Hasyimi, Ahmad. Tanpa tahun. Jawahir al-Adab fi Adabiyyat wa Insya Lughah al-‘Arab. Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Husaini, Al-Masyhad. Tanpa tahun. Alf Lailah wa Lailah. Kairo: Masyhad al-Husaini.
Al-Jahidz, Abu ‘Usman bin Bahr. Tanpa tahun. Al-Bukhala. Kairo: al-Maktabah at-Taufiqiyah.
Al-Kailani, Najib. 1982. ‘Adzra Jakarta. Beirut: Dar an-Nafais.
Al-Kailani, Najib. 1980. “al-Qalb al-Kabir” dalam Dumu’ al-Amir. Kairo: Muassasah ar-Risalah.
Al-Muqaffa’, Ibn. 1987. Kalilah wa Dimnah. Beirut: Dar an-Nubula.
Al-Qa’ud, Hilmi Muhammad. 1986. Madrasah al-Bayan fi al-Natsar al-Hadits. Riyadh: Dar al-Qafilah.
Al-Zayyat, Ahmad Hasan. Tanpa tahun. Tarikh al-Adab al-‘Arabi. Kairo: Dar al-Nahdhah.
Ar-Rabi’, Muhammad bin abd Rahman. 1410 H. al-Adab al-Arabi wa Tarikhuhu (al-‘Ashr al-‘Abbasyi, Adab al-Harub al-Shalibiyah, ‘Ashr a-Duwal al-Mutatabi’ah, al-Adab al-Andalusi). Riyadh: Jami’ah Muhammad bin Sa’ud.
As-Sa’dawi, Nawal. 2003. Perempuan di Titik Nol, terjemahan Women at Point Zero, Jakarta Yayasan Obor.
At-Taranji, Muhammad. 1992. al-Mu’jam al-Mufashshal fi al-Adab. Beirut: Dar al-Kutub al’-Ilmiyyah.
Barakat, Iqbal. 2004. Kisah-Kisah Cinta Awal Islam, terj. Taufiq Damas al-Hubb fi Shadr al-Islam, Jakarta: Qisthi Press.
Dhaif, Syauqi. 1980. al-Fann wa Mazahibuhu fi an-Nastr al’Arabi. Kairo: Dar al-Ma’arif.
Dzihni, Mahmud. Tanpa tahun. Tadzawwuq al-Adab, Thuruquh wa Wasailuh. Ttp: Al-Anjalau Al-Mishriyyah.
Esposito, John L. Tanpa tahun. Ensiklopedi Oxpord Dunia Islam Modern, Bandung: Mizan.
Fang, Liau Yock. 1991. Sejarah Kesusasteraan Melayu Kalsik I. Jakarta: Erlangga.
Ghougassian, Joseph Peter. 2001. Sayap-Sayap Pemikiran Gibran, terjemahan Kahlil Gibran: Wing of Tought, Jakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001
Glasses, Cyrell. 1990. Ensiklopedi Islam, Ringkasan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Goumbeih, G. Tanpa tahun. Shulasiyyah Najib Mahfudz. Kairo: Maktabah Misr.
Hadi WM, Abdul. 2004. “Sastera” dalam Taufik Abdullah dkk., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Pemikiran dan Peradaban. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Hadi WM., Abdul. 2000. Islam, Cakrawala Estetik dan Budaya. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Hakim, Taufik. 2003. Malam Pengantin, terjemahan Lailah az-Zafaf. Yogyakarta: Navila.
Hasan, Fuad. 2001. Menapak Jejak Khalil Gibran. Jakarta: Pustaka Jaya.
Hilal, Muhammad Gunaimi. Tanpa tahun. Al-Adab Al-Muqaran. Kairo: Dar an-Nahdah.
Hitti, Philip K. Tanpa tahun. Dunia Arab, Sejarah Ringkas, terjemahan The Arab, A Short History. Bandung: Sumur Bandung.
Husein, Taha. 2004. Min Hadis as-Syi’r wa an-Nasr. Kairo: Dar al-Ma’arif.
Jibran, Jibran Khalil. 1975. al-Majmu’ah al-Kamilah Limu’allafat Jibran Khalil Jibran al’Arabiyyah, Beirut: Tanpa penerbit.
__________. Tanpa tahun. al-Majmu’ah al-Kamilah Limu’allafat Jibran Khalil Jibran al-Mu’arabah ‘an al-Inkliziyyah, terj. Irsmandret Antonius Basyir. Ttp: Tanpa penerbit.
Khafaji, Muhammad ‘Abd al-Mun’im. Tanpa tahun. Abu ‘Usman al-Jahidz. Kairo: Dar at-Thiba’ah al-Muhammadiyah.
Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia, Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening.
Mahfudz, Najib. 1983. Baina al-Qashrain. Kairo: Maktabah Mishr.
__________. 1984. As-Sukkariyah. Kairo: Maktabah Mishr.
__________. Tanpa tahun. Kisah Seribu Satu Siang dan Malam, terjemahan Arabian Nights and Days. Yogyakarta: Bintang Budaya
__________. 1984. Qashr as-Syauq. Kairo: Maktabah Mishr.
McGlynn dkk., John H. 1998. Indnesian Heritage, Bahasa dan Sastra, terj. Tonny Gautama-Johan. Jakarta: Grolier International Inc.
Muja’sh, Salim (Ed.). 1999. Risalah Gufran Abi al-‘Ala al-Ma’ari. Beirut: Amwaj.
Muthahhari, Murtadha. Tanpa tahun. Tema-Tema Penting Filsafat Islam, terjemahan dari Fundamental of Islamic Thought: God, Man, and The Universe. Bandung: Mizan.
Nidzami. 2002. Laila Majnun, Roman Cinta Paling Popular dan Abadi, terjemahan Qais bin al-Mulawwah, Majnun Laila, Yogyakarta: Navila, 2002
Sai’d, Fathimah Az-Zahra Muhammad. 1981. ar-Ramziyyah Fi Adab Najib Mahfudz. Beirut: al-Muassasah al-‘Arabiyyah li ad-Dirasat wa an-Nasyr.
Salam, Muhammad Zaglul. Tanpa tahun. Dirasat fi al-Qishshah al-Hadisah, Ushuluha, Ittijahatuha, A’lamuha. Iskandaria: Mansyat al-Ma’arif.
Shalih, Rusydi. 1813 H. Alf Lailah wa Lailah, Kairo: Dar as-Sya’b.
Shiddiqi, Bachtiar Husein. 1996. “Ibn Thufail” dalam MM. Syarif, Para Filosuf Muslim, Bandung: Mizan.
Sumardjo dan Saini KM, Jakob. 1997. Apresiasi kesusasteraan, Jakarta: Gramedia.
Taimur, Mahmud. 1952. Kleobatra fi Khan Khalili. Kairo: Kitab Al-Hilal.
Thufail, Ibn. 1997. Hayy bin Yaqdzan, Anak Alam Mencarai Tuhan, terj. Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Yatim, Badri. 1997. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Subscribe to:
Posts (Atom)